Kumparan Logo

Di G20 Gubernur BI Ungkap Risiko Kurs Dorong Kenaikan Bunga Acuan

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi mata uang Dolar. (Foto: AFP/Romeo Gacad)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mata uang Dolar. (Foto: AFP/Romeo Gacad)

Para menteri keuangan dan gubernur-gubernur bank sentral negara G20 menekankan pentingnya meningkatkan kerja sama internasional, dalam menghadapi ketidakpastian global. Hal ini demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi global.

Pertemuan yang dilaksanakan di Buenos Aires, Argentina, pada 19-22 Juli 2018 tersebut juga membahas berbagai macam isu ekonomi dan sejumlah risiko global.

Untuk Indonesia, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan adanya kenaikan risiko nilai tukar (kurs) di banyak negara, khususnya di negara berkembang. Hal ini memaksa bank sentral menaikkan suku bunga acuan.

"Adanya kenaikan risiko nilai tukar di banyak negara, khususnya di negara berkembang," ujar Perry dalam keterangan resmi, Senin (23/7).

Menurut dia, kenaikan suku bunga bank sentral tersebut tersebut demi menjaga stabilitas. "Terlepas kondisi ekonomi domestik yang masih kuat dan kokoh, yang sebenarnya tidak memerlukan kenaikan suku bunga tersebut," jelasnya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo  (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Perry juga menekankan pentingnya memperkuat bauran kebijakan moneter dan fiskal, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas dan mendorong pelaksanaan reformasi struktural.

Dalam kesempatan tersebut, Perry mendukung agenda Presidensi G20 Argentina dalam membahas perekonomian global, memperkuat sistem keuangan internasional, meningkatkan pembiayaan infrastruktur, dan serta mendalami isu-isu ekonomi digital.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo sebelumnya juga mengatakan, dolar AS masih akan menguat terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah, hingga akhir tahun ini. Kalkulasi tersebut sejalan dengan membaiknya perekonomian AS, maupun adanya isu perang dagang serta geopolitik lainnya, termasuk potensi kenaikan suku bunga AS yang akan terjadi sebanyak dua kali lagi di September dan Desember mendatang.

"BI sudah kalkulasi kemungkinan dolar AS masih akan menguat terhadap mata uang negara lain hingga akhir 2018," ujar Dody beberapa waktu lalu.

Namun dia menegaskan, bank sentral akan terus melakukan kebijakan intervensi ganda (di pasar valas dan SBN) untuk menstabilka rupiah. Selain itu, BI juga memastikan likuditas perbankan tetap terjaga.