Di Sidang Tahunan MPR/DPR, Jokowi Pesan Hilirisasi Tambang Dilanjutkan
ยทwaktu baca 2 menit

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan kembali komitmen pemerintah mengembangkan industri hilirisasi sumber daya alam (SDA), terutama untuk komoditas tambang Indonesia.
Menurut Jokowi, hilirisasi dan manufaktur di dalam negeri terus tumbuh pesat. Hal ini merupakan peluang besar untuk membangun Indonesia yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
"Hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam harus terus dilakukan. Hilirisasi nikel, misalnya, telah meningkatkan ekspor besi baja 18 kali lipat," ujar Jokowi saat Sidang Tahunan MPR/DPR, Selasa (16/8).
Dia melanjutkan, ekspor besi baja Indonesia di tahun 2014, hanya sekitar Rp 16 triliun, tapi di tahun 2021 meningkat menjadi Rp 306 triliun. Perkembangan ini, menurut Jokowi, dapat meningkatkan penerimaan pajak dan devisa negara, sehingga kurs rupiah lebih stabil.
"Di akhir tahun 2022 ini, kita harapkan bisa mencapai Rp 440 triliun. Itu hanya dari nikel," ungkap Jokowi.
Presiden menyebutkan Indonesia telah menjadi produsen kunci dalam rantai pasok baterai lithium global. Produsen mobil listrik dari Asia, Eropa, dan Amerika ikut berinvestasi di Indonesia.
"Setelah nikel, Pemerintah juga akan mendorong hilirisasi bauksit, hilirisasi tembaga, dan timah. Kita harus membangun ekosistem industri di dalam negeri yang terintegrasi, yang akan mendukung pengembangan ekosistem ekonomi hijau dunia," jelasnya.
Kedua, selain hilirisasi, Jokowi memastikan pemerintah terus meningkatkan optimalisasi sumber energi bersih dan ekonomi hijau. Persemaian dan rehabilitasi hutan tropis dan hutan mangrove dan rehabilitasi habitat laut akan menjadi potensi besar penyerapan karbon.
"Energi bersih dari panas matahari, panas bumi, angin, ombak laut, dan energi bio, akan menarik industrialisasi penghasil produk-produk rendah emisi. Kawasan industri hijau di Kalimantan Utara akan menjadi Green Industrial Park terbesar di dunia," kata dia.
"Saya optimistis, kita akan menjadi penghasil produk hijau yang kompetitif di perdagangan internasional," imbuh Jokowi.
Dia mengatakan, upaya tersebut bisa langsung disinergikan dengan program peningkatan produksi pangan dan energi. Menurut Jokowi, pemanfaatan kekayaan hayati laut secara bijak, akan menjadi kekuatan besar untuk produk pangan, farmasi, dan energi.
