Di Tengah Pandemi, Laba Bersih Bank Panin Naik 5,2 Persen Jadi Rp 2,33 Triliun

Di tengah pandemi COVID-19, kinerja keuangan PT Panin Bank Tbk di kuartal III tahun 2020 masih positif. Presiden Direktur Panin Bank, Herwidayatmo mengungkapkan, laba bersih perusahaan naik 5,2 persen.
“Secara individual bank (bank only) sampai dengan kuartal III 2020 Panin Bank berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 2,33 triliun, meningkat 5,2 persen dibanding periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 2,21 triliun,” kata Herwidayatmo melalui keterangan tertulisnya kepada kumparan, Minggu (1/11).
Herwidayatmo mengatakan pertumbuhan tersebut didukung dengan posisi likuiditas dan permodalan yang kuat. Ia menjelaskan sinergi bisnis yang menyeluruh baik di sektor perkreditan, tresuri dan jasa-jasa, yang membuat pihaknya berhasil menjaga pertumbuhan di tengah kondisi sulit saat ini.
“Keberhasilan tersebut memberikan angin segar dan optimisme untuk terus tumbuh dan berkembang,” ujar Herwidayatmo
Secara konsolidasi, laba operasional sebelum pencadangan tumbuh sebesar 12,1 persen menjadi Rp 4,76 triliun. Kualitas aset terkendali dengan NPL (net) 0,58 persen, dan posisi permodalan yang sangat kuat dan likuiditas terjaga dengan optimal.
Peningkatan pendapatan operasional sebelum pencadangan terutama dikontribusikan oleh pertumbuhan fee based income yang mencapai Rp 2,26 triliun atau naik 79,2 persen yoy. Hal ini sesuai dengan meningkatnya transaksi surat-surat berharga di tengah kecenderungan penurunan suku bunga pasar.
Sejalan dengan prinsip kehati-hatian dalam menghadapi dampak COVID-19, sampai dengan kuartal III 2020 ini Panin Bank telah mengalokasikan biaya pencadangan penurunan kualitas aset yang cukup signifikan sebesar Rp 1,78 triliun atau meningkat 96,9 persen dari periode yang sama tahun lalu. Panin Bank mengantisipasi dan memperhitungkan potensi peningkatan kredit bermasalah sebagai akibat dari perlambatan pertumbuhan perekonomian yang berdampak pada meningkatnya profil risiko portofolio kredit.
Sedangkan total aset konsolidasi mencapai Rp 216,59 triliun, naik dari periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 212,67 triliun. Total kredit sebesar Rp 133,93 triliun atau mengalami penurunan sebesar 12,9 persen terutama disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan kredit di tengah lambatnya pertumbuhan perekonomian di Indonesia dan penerapan prinsip kehati-hatian untuk menjaga kualitas portofolio kredit.
