Di Tengah Pelemahan Harga Kopi Dunia, Kopi Lintong Sumut Tetap Berjaya

Sejak 1982 hingga saat ini, harga biji kopi dunia telah turun hingga 70 persen. Penyebabnya adalah kelebihan produksi biji kopi dunia. Keadaan ini dikhawatirkan berimbas pada 1,8 juta petani kopi di Indonesia, termasuk di Sumatera Utara yang menjadi pemasok kopi dunia.
Namun hal itulah ternyata tidak berlaku pada harga ekspor Kopi Lintong di Sumut. Kopi asal Kabupaten Humbahas Hasundutan ini tetap menjadi idola di pasar dunia karena kualitasnya.
"Harga, Kopi Lintong kita tak berpengaruh, justru menjadi primadona di berbagai negara di dunia," ujar salah seorang petani kopi, Fransisca Lintong, kepada Kumparan di acara North Sumatera Coffee Expo 2019, Minggu (27/10).
Kata Fransisca, sejak dulu Kopi Lintong Sumut memang menjadi pemasok kopi di gerai-gerai kafe dunia. Karena itu, kopi ini selalu dicari oleh pembeli dari luar negeri.
"Sejak dari dulu jauh sebelum kopi sekarang muncul, seperti Gayo misalnya. Kopi Starbucks seluruh dunia menggunakan Kopi Lintong," ujar Fransisca.
Karena itu, walaupun harga kopi dunia anjlok, harga Kopi Lintong tetap tinggi. "Harganya sekitar USD 5-6 per kilogramnya, kalau yang jenis spesial itu bisa USD 12 per kilogram, itu bisa dibandingkan dengan produk (kopi) lain," ujar Fransisca.
Hingga kini efek dari anjloknya harga biji kopi tidak dirasakan perkebunan Fransisca, setiap minggunya kebun kopi miliknya mengekspor Kopi Lintong hingga 2 Ton ke negara negara seperti Jepang, Korea, Taiwan dan negara lainnya.
"Tapi kalau gabung sama punya teman (digabung) bisa sampai lima ton per minggu, Kopi Lintong ini tetap primadona hingga kini, artinya buyer sering datang ke kita. Bukan kita yang sibuk nawarin, mereka datang ke sini," ujar Fransisca.
Banyaknya penggemar Kopi Lintong, menurut Fransisca, karena ciri khas rasanya yang kaya akan cita rasa herbal.
"Selain itu tingkat kemanisan kopinya sendiri sangat tinggi. Jadi sering Kopi Lintong dipakai buat nge-blend kopi-kopi yang lain," ujar Fransisca.
