kumparan
30 Juli 2018 13:03

Dianggap Kemurahan, Petani Tebu Tolak Harga Pembelian Gula dari Bulog

Dirjen PKTN Kemendag cek gula di swalayan
Dirjen PKTN Kemendag cek gula di swalayan. (Foto: Siti Maghfirah/kumparan)
Petani tebu menolak patokan harga pembelian gula yang ditawarkan Perum Bulog, karena dianggap kemurahan. Sebelumnya pemerintah menugaskan Bulog untuk membeli gula petani, yang produksinya sedang melimpah.
ADVERTISEMENT
Petani tebu di Cirebon, Jawa Barat, menolak harga pembelian sebesar Rp 9.700 per kilogram. Alasannya, harga itu di bawah biaya produksi, sehingga merugikan.
"Kami menolak pembelian gula yang hanya dihargai Bulog sebesar Rp 9.700 per kilogram. Ini tidak berdasar dan sangat merugikan petani tebu," kata petani tebu Mae Azhar di Cirebon, Jawa Barat, Senin (30/7).
Menurut dia, penetapan harga pembelian Rp 9.700 dari Bulog itu tidak masuk akal, karena ongkos produksinya sudah melebihi harga itu, sehingga petani dipastikan merugi.
Azhar yang juga Wakil Ketua DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jabar, mengatakan sudah empat tahun terakhir harga gula petani dipermainkan dan petani terus dirugikan dengan kebijakan pemerintah.
Petani Tebu
Ilustrasi petani tebu (Foto: Sarangib/Pixabay)
"Setiap musim giling, harga gula petani terus turun dan murah. Kemudian nanti Bulog menawarkan untuk membeli, agar seolah-olah hadir untuk membantu petani, padahal tidak," tuturnya seperti dikutip Antara.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, petani lain, Syafii juga mengeluhkan turunnya harga gula, sehingga membuatnya bingung dan bimbang apakah pada musim tanam pada 2019 akan menanam tebu lagi atau tidak.
"Sama seperti tahun-tahun kemarin, harga gula anjlok lagi dan untuk tanam tahun 2019 itu kami masih mengambang atau bingung, karena tidak ada modal dan harga gula merugikan," katanya.
Syafii yang menanam tebu seluas tiga hektare itu harus selalu gigit jari saat musim panen dan giling tiba, karena harga gula tidak menguntungkan. Padahal, biaya untuk tanam tebu, setiap tahun terus naik seperti pupuk, sewa lahan, dan ongkos tenaga kerja.
"Tapi gula kita selalu turun dan tidak pernah laku, jadi tentu saja sangat merugikan," ujar Syafii.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan