Didukung BI, Bisnis Ritel Ponpes Sunan Drajat Kini Berkembang Jadi 200 Cabang

Dukungan Bank Indonesia (BI) ikut mengiringi perkembangan bisnis Pondok Pesantren (Ponpes) Sunan Drajat di Lamongan, Jawa Timur. Dari penguatan usaha dan koperasi sejak 2018, Sunan Drajat kini memiliki lebih dari 30 lini bisnis dan jaringan Toserba yang telah berkembang menjadi sekitar 200 cabang.
Salah satu yang paling terlihat adalah Toserba Sunan Drajat. Jaringan toko yang awalnya hanya berdiri di lingkungan pesantren itu kini telah berkembang menjadi sekitar 200 cabang melalui skema kemitraan dengan masyarakat dan pesantren.
Di balik ekspansi tersebut, ada perjalanan panjang yang dimulai dari restrukturisasi bisnis pada 2018 dan kemudian mendapat dukungan Bank Indonesia (BI).
Direktur Utama Perekonomian Sunan Drajat, Gus Anas Al-Hifni, mengatakan ketika mulai mengelola bisnis pesantren pada 2018, kondisi Kopontren atau Koperasi Pondok Pesantren Sunan Drajat masih memiliki utang sekitar Rp 700 juta.
Saat itu, bisnis Sunan Drajat sebenarnya sudah memiliki sejumlah usaha. Namun, aktivitas ekonominya masih didominasi sektor industri, terutama tambang dolomit dan air minum dalam kemasan (AMDK).
Anas kemudian mulai melakukan restrukturisasi Kopontren dan mengembangkan sejumlah unit usaha baru.
“Jadi munculnya bisnis lain itu awal dari Kopontren dan Toserba itu. Dan awal dari inisiasi BI untuk bantu kita tadi itu. Berarti BI itu termasuk yang paling berjasa di kita,” kata Anas kepada wartawan, Sabtu (26/9).
Salah satu bisnis yang ikut dikembangkan adalah pabrik garam. Ketika Anas mulai mengembangkan bisnis tersebut pada 2018, pabrik garam Sunan Drajat hanya memiliki sekitar enam pekerja dengan kapasitas produksi yang masih sangat kecil.
Secara bertahap kapasitas produksinya meningkat. Pabrik yang kemudian menggunakan nama Samudra Sunan Drajat atau SSD itu kini memiliki kapasitas sekitar 100 ton garam per hari, baik untuk kebutuhan industri maupun konsumsi.
Pengembangan bisnis garam tersebut menjadi salah satu titik pertemuan Sunan Drajat dengan BI. Selain memperoleh akses pembiayaan, Sunan Drajat juga mendapatkan dukungan mesin setelah mengikuti program yang diselenggarakan BI.
Dukungan BI kemudian masuk lebih jauh ke sektor perdagangan. Pada 2019, Anas mulai terlibat dalam pengembangan Koperasi Sarekat Bisnis Pesantren (KSBP), yang beranggotakan pesantren-pesantren di Jawa Timur. Salah satu bisnis yang kemudian dijalankan adalah perdagangan buku dan alat tulis kantor.
Dari aktivitas tersebut, KSBP yang sebelumnya tidak berjalan mulai menghasilkan omzet. Perkembangan itu kemudian mendapat perhatian BI.
Salah satu kebutuhan yang disampaikan kepada BI saat itu adalah distribution center atau DC. BI kemudian membangun DC di tiga pesantren, yakni Sunan Drajat, Nurul Jadid di Paiton, dan Bahrul Ulum Tambakberas di Jombang.
Namun, di Sunan Drajat, konsep bangunan tersebut kemudian diperluas.
Anas menceritakan, ketika melaporkan bantuan BI sekitar Rp 900 juta untuk pembangunan DC, pengasuh pesantren meminta agar bangunan tersebut tidak hanya digunakan sebagai gudang, tetapi sekaligus menjadi pusat perdagangan.
Masalahnya, lahan yang akan digunakan masih berbentuk seperti gunung sehingga membutuhkan biaya besar untuk diratakan.
Dana bantuan BI akhirnya digunakan untuk proses tersebut, sementara pembangunan pusat perdagangan berikutnya dilakukan melalui pembiayaan Kopontren.
Dari sinilah kemudian lahir pusat perdagangan yang menjadi salah satu motor ekspansi Toserba Sunan Drajat.
Setelah bangunan selesai, Sunan Drajat kembali membutuhkan modal untuk mengisi toko. Pembiayaan sekitar Rp 4,9 miliar dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) kemudian digunakan sebagai modal kerja Toserba. Saat pertama kali dibuka, toko tersebut mencatat omzet sekitar Rp 500 juta.
Animo masyarakat yang tinggi membuat Sunan Drajat mulai melihat peluang untuk membuka jaringan toko di luar kompleks pesantren.
Model bisnis yang dipilih bukan dengan membeli seluruh aset cabang sendiri. Sunan Drajat justru menggandeng masyarakat, pesantren, hingga organisasi kemasyarakatan sebagai mitra.
Mitra menyediakan aset seperti ruko atau tempat usaha. Sementara Sunan Drajat menyediakan modal kerja, rak, sistem, sumber daya manusia, serta operasional toko.
“Dengan konsep saya, membangun cabang itu, asetnya kita mitra dengan masyarakat. Jadi misalkan masyarakat punya ruko, punya tempat, masyarakat itu boleh pesantren, boleh ormas, kita bermitra dengan NU, Muhammadiyah, dengan masyarakat, dengan pesantren,” ungkapnya.
Skema tersebut membuat ekspansi Toserba berlangsung lebih cepat. Sunan Drajat juga mendapat dukungan BI melalui program Toko Bahan Baku Halal atau Tobaku di sejumlah titik di Jawa Timur.
Tiga titik yang mendapat dukungan tersebut kemudian menjadi bagian dari cikal bakal jaringan cabang Toserba. Kini jumlah cabang Toserba Sunan Drajat telah mencapai sekitar 200 unit.
Pertumbuhannya juga tercermin dari angka penjualan. Anas menunjukkan dashboard digital yang digunakan untuk memantau kinerja bisnis secara real time. Dalam dashboard tersebut, omzet Toserba Sunan Drajat tercatat sekitar Rp 316 miliar untuk periode berjalan sejak Januari hingga waktu wawancara.
“Omzet Toserbanya saja itu Rp 316 miliar (periode Januari-September 2026),” kata dia.
Angka tersebut baru berasal dari lini Toserba dan belum mencakup sejumlah bisnis industri yang dimiliki Sunan Drajat.
Digitalisasi menjadi bagian penting dalam mengawasi ratusan cabang tersebut. Sunan Drajat bahkan mengembangkan sistem teknologi sendiri untuk memantau omzet, stok barang, purchasing, hingga aktivitas masing-masing cabang.
Sistem itu memungkinkan pengelola melihat kinerja cabang tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Dari jaringan perdagangan yang semakin besar, Sunan Drajat kemudian mulai membangun berbagai lini bisnis lain.
Ada pabrik roti, konveksi, penggilingan padi atau Rice Milling Unit (RMU), produksi sabun, sampo, makanan olahan, greenhouse, apotek, optik, hingga peternakan.
Di sektor industri, Sunan Drajat memiliki bisnis tambang dolomit, air minum, garam, hingga pabrik kapal. Ada pula bisnis restoran di Malaysia dan perusahaan perjalanan yang memberangkatkan lebih dari 3.000 jemaah umrah dalam setahun.
Pengembangan berbagai lini tersebut memiliki satu tujuan: mengisi rantai pasok Toserba dengan produk yang secara bertahap diproduksi sendiri.
“Memang semua produk yang ada di Toserba, cita-cita kami pelan-pelan kita ganti dengan produksi kita sendiri,” tutur dia.
Dengan jaringan bisnis yang semakin besar, peran BI juga tidak berhenti pada bantuan sarana atau dukungan pembiayaan. BI turut memberikan pendampingan melalui capacity building, termasuk pelatihan administrasi, halal, hingga penyembelihan hewan.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal, mengatakan pengembangan ekonomi pesantren diarahkan untuk mendorong kemandirian pesantren sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.
“Pertama, untuk mendorong kemandirian ekonomi Pesantren. Kedua, akan mengembangkan masyarakat penduduk sekitar, termasuk di wilayah-wilayah di mana Pesantren itu berdiri. Ketiga, beberapa Pesantren itu bahkan sudah ada yangekspor,” kata Rifki.
Menurut Rifki, BI telah mengembangkan ekosistem ekonomi pesantren selama sekitar delapan tahun melalui HEBITREN atau Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren. Fokusnya tidak hanya pada produksi, tetapi juga peningkatan kualitas produk, standardisasi, kemasan, hingga pembukaan akses pasar ekspor.
“Jadi, BI mengembangkan pesantren, unit ekonominya dengan cara tadi sudah dari 8 tahun itu punya kumpulan ekonomi bisnis Pesantren,” kata dia.
Pengembangan ekosistem tersebut kemudian masuk ke ranah digital melalui Pesantara. Platform berbasis koperasi itu menjadi marketplace yang mempertemukan produk-produk pesantren dengan konsumen.
Berbeda dengan marketplace umum, pesantren yang menjadi anggota Pesantara tidak hanya menjadi penjual. Mereka juga menjadi bagian dari kepemilikan koperasi.
Pesantara kini telah memiliki sekitar 40 pesantren sebagai anggota dan mencatat omzet transaksi hampir Rp 8 miliar sejak diluncurkan pada tahun sebelumnya.
