Didukung PBB Jadi Capres, Prabowo Janji Kerja Keras Jaga Keamanan Pangan RI
·waktu baca 3 menit

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyampaikan keresahannya terkait beberapa negara produsen beras terbesar di dunia yang hentikan ekspor beras. Kondisi ini bisa mengancam ketahanan pangan nasional.
Hal itu disampaikan dalam pidatonya saat puncak Harlah ke-25 Partai Bulan Bintang (PBB). Dia acara itu, PBB juga mendeklarasikan dukungannya terhadap Prabowo sebagai sebagai calon presiden (capres) di Pemilu 2024, Minggu (30/7).
"Kita mengerti saat sekarang bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang sangat kaya, bangsa besar dan kaya selalu akan menghadapi tantangan-tantangan yang besar pula," tegasnya.
India menjadi salah satu negara yang mengambil keputusan itu mulai 20 Juli 2023. Langkah ini untuk mengantisipasi kekhawatiran inflasi di pasar makanan global. Kebijakan India ini akan mengurangi 40 persen pasokan impor beras di dunia.
Prabowo menilai, sebagai bangsa yang besar Indonesia harus siap menghadapi kondisi dunia yang saat ini penuh tantangan, terlebih dari sisi ketahanan pangan.
"Baru beberapa hari lalu negara-negara di sekitar kita yang adalah penghasil besar pangan dunia mereka menghentikan ekspor beras. Ini memberi suatu tanda kepada kita bahwa kita harus benar-benar bekerja keras untuk menjamin keamanan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia," tutur Prabowo.
Menurut Prabowo, salah satu prasyarat untuk membuat Indonesia aman, kuat, dan bangkit adalah persatuan bangsa Indonesia. Dia menilai, Indonesia bisa menghadapi segala tantangan jika masyarakat, terutama para elit, bisa kompak.
"Strategi pembangunan, hilirisasi, pengamanan terutama pangan kita harus kita amankan, kita juga harus amankan pengelolaan air karena dalam situasi global di mana iklim sekarang berubah ke arah cukup mencemaskan," jelas dia.
Sebelumnya, Vietnam sebagai negara eksportir beras terbesar ketiga di dunia meminta asosiasi pangan negaranya untuk memastikan pasokan beras cukup dan ketahanan pangan aman, sebagai respons India yang menghentikan ekspor beras.
India adalah eksportir beras terbesar dunia, menyumbang 40 persen total ekspor. Pada Kamis (20/7), India memerintahkan penghentian ekspor kategori beras terbesarnya, non-basmati, setelah harga eceran naik 3 persen dalam sebulan. Kenaikan harga ini disebabkan hujan lebat yang menyebabkan kerusakan signifikan terhadap tanaman.
Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam meminta asosiasi, yang mewakili pengekspor dan pengolah beras, untuk memerintahkan anggotanya untuk secara ketat mengikuti aturan menjaga cadangan beras, setidaknya 5 persen dari volume ekspor mereka dalam enam bulan sebelumnya.
Kemendag Pastikan RI Tetap Jatah Impor Beras 1 Juta Ton dari India
Ditemui terpisah, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Budi Santoso, memastikan Indonesia tetap mendapat jatah beras 1 juta ton dari India hingga akhir 2023. Budi mengatakan keran impor dari Negara Bollywood itu tetap berjalan lantaran Indonesia dan India telah memiliki MoU terkait pasokan 1 juta beras.
“Ya walaupun sudah setop, tapi kita kan sudah ada MoU-nya. Mestinya enggak (batal impor),” kata Budi di kawasan Jakarta Pusat, Minggu (30/7).
Budi memastikan keputusan India untuk menghentikan ekspor beras tak berdampak dengan persediaan di Indonesia hingga akhir tahun ini. Selain itu, kebijakan ini juga tak akan menimbulkan kenaikan beras di pasaran.
“Ya (naik) kalau setop, tapi kan kita sudah ada MoU-nya mestinya enggak. Iya, tinggal tanda-tangan aja. Jadi selama ini nggak ada isu untuk berubah ya,” kata Budi.
