Digitalisasi Perbankan Belum Bisa Dilakukan di Daerah Pelosok

Perbankan kini mulai melakukan digitalisasi pelayanan agar nasabah dapat terlayani lebih cepat dan semakin mudah. Dampaknya, karyawan perbankan seperti teller maupun customer service terancam oleh pelayanan internet maupun mobile banking.
Namun demikian, hal tersebut sepertinya belum berlaku di daerah yang tergolong tertinggal. Misalnya seperti di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Sejauh ini kami masih membutuhkan karyawan, bahkan pembukaan (karyawan baru) masih terus dibuka,” kata Kepala Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bank BNI Gunungkidul, Jabarudin kepada kumparan (kumparan.com), Selasa (14/11).
Dia pun mengungkapkan meski teknologi berkembang begitu pesat, namun masyarakat di daerah pelosok masih belum bisa menggunakan internet banking maupun mobile banking. Hal itu terlihat dari data catatan transaksi di Gunungkidul.

“Penggunaan internet atau mobile banking tidak sampai 20% per kuartal III-2017. Belum bisa digitalisasi di daerah terpencil,” jelasnya.
Jabarudin pun menjelaskan untuk wilayah Gunungkidul juga belum tersedia mesin setor tunai. Sehingga dia memastikan bahwa digitalisasi perbankan di daerah pelosok belum akan terjadi dalam waktu dekat.
“Saya juga yakin di daerah terpencil lainnya juga sama,” tegas dia.
Salah seorang pegawai Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Ponorogo Jawa Timur, Allysa Arrahman mengamini pernyataan Jabarudin. Menurutnya di Ponorogo, digitalisasi perbankan juga belum akan terjadi dalam waktu dekat.
“Di sini nasabah juga masih belum melek teknologi. Di sini rekrutmen masih terus dibuka,” tutupnya.
