Dihitung Rizal Ramli, Prabowo Optimistis Tarif Listrik Bisa Turun

Calon Presiden RI nomor urut 02 Prabowo Subianto berjanji bakal menurunkan tarif listrik bila dirinya dan Sandiaga Uno menang dalam Pemilihan Presiden 2019. Hal itu disampaikan dalam Pidato Kampanye Akbar di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Minggu (7/4).
Seperti apa janji Prabowo turunkan tarif listrik? Berikut kumparan rangkum.
1. Prabowo Janji Turunkan Listrik dalam 1,5 Tahun
Di hadapan pendukungnya, Prabowo menyatakan bakal menurunkan tarif listrik dalam 1,5 tahun usai dirinya terpilih menjadi Presiden RI. Ia menuturkan, pakar-pakar yang ada di belakangnya, salah satunya Rizal Ramli, bahkan menyatakan bisa menurunkan tarif listrik dalam 100 hari.
"Saudara sekalian, pakar saya beri tugas. Bisa enggak kalian (para pakar) menurunkan harga? Saya punya pakar Rizal Ramli. Saya tanya, bisa turunkan harga listrik? Hitung-hitung berapa lama? Saya kira 1,5 tahun. Dia mengatakan tidak Pak, 100 hari pertama. Eh Bung Rizal jangan ngarang kamu, saya mau bicara di Senayan, jangan saya sampai disebut bohong," kata Prabowo.
2. Alasan Prabowo Ingin Turunkan Tarif Listrik
Alasan Prabowo ingin turunkan tarif listrik karena menduga hitungan yang dilakukan PT PLN (Persero) saat ini kurang tepat yang menyebabkan harganya mahal. Hal ini, dia ungkapkan usai bertanya kepada Rizal Ramli.
Menurut Rizal Ramli, Prabowo menuturkan, ada pihak-pihak yang sengaja membuat tarif listrik mahal untuk mengeruk keuntungan.
"Terus kenapa selama ini tinggi? Terus dia (Rizal Ramli) bilang, biasa Pak banyak ambil setoran," ujarnya.
3. BPN Akan Hitung Ulang Tarif Listrik
Anggota Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Drajad Wibowo menjelaskan upaya penurunan tarif listrik selama 1,5 tahun tersebut. Pertama, pihaknya akan mengajak manajemen PT PLN (Persero) untuk menghitung ulang tarif listrik.
"Kan faktanya tarif makin naik. Jadi ya mau enggak mau harus kita hitung ulang, kita tidak bisa terima begitu saja angka dari PLN. Tentu PLN harus terang-terangan," katanya kepada kumparan, Minggu (7/4).
Drajad berpendapat, selama ini PLN terbebani dengan biaya produksi yang tinggi. Ia menyebut biaya yang harus pembangunan transmisi yang ditanggung PLN sebagai salah satu contohnya.
Menurutnya, pembangunan transmisi membutuhkan biaya investasi yang tinggi, sehingga berdampak pada tarif listrik.
"Yang transmisi ditanggung mereka semua, nah itu tentu harus kita hitung ulang. Dari sisi transmisi bisa lebih murah," ujarnya.
