Kumparan Logo

Dirut Garuda Indonesia Ungkap Virus Corona Bikin Perusahaan Babak Belur

kumparanBISNISverified-green

comment
19
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesawat Garuda Indonesia di landasan Terminal 3, Bandara Internasional Soekarno-Hatta Foto: REUTERS / Darren Whiteside
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat Garuda Indonesia di landasan Terminal 3, Bandara Internasional Soekarno-Hatta Foto: REUTERS / Darren Whiteside

Virus corona atau covid-19 semakin nyata melumpuhkan dunia usaha, termasuk maskapai penerbangan. Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra bahkan mengaku 'babak belur' dengan adanya virus asal Wuhan, China tersebut.

"Ada penurunan lah, tapi kita enggak usah ngomongin gituan. Lumayan babak belur, tapi ya sudahlah," ujar Irfan saat ditemui di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Minggu (8/3).

Garuda memang sangat terdampak akibat penyebaran virus corona. Seperti kerugian akibat ditutupnya penerbangan umrah ke Arab Saudi. Jemaah umrah menjadi pasar besar bagi bisnis penerbangan Garuda.

Meski demikian, Irfan enggan menyebut secara detail angka penurunan pendapatan akibat virus corona itu. Meski demikian, pihaknya akan terus melakukan berbagai upaya demi menahan penurunan pendapatan lebih lanjut.

Salah satu strateginya adalah mengalihkan pesawat besar ke destinasi domestik, dari yang sebelumnya banyak ditujukan ke penerbangan luar negeri.

"Kita kan banyak pesawat besar, beberapa pesawat besar itu kita alihkan ke destinasi yang masih domestik, yang masih banyak dipakai," katanya.

Selain itu, Garuda Indonesia juga berencana untuk menambah rute baru, seperti dari Brisbane ke Denpasar, Dili ke Denpasar atau Surabaya, serta dari India atau Mumbai ke Denpasar.

"Ada beberapa rute itu. Kita ada rencana rute baru untuk bawa penumpang ke Denpasar, masih rencana, masih finalisasi," jelasnya.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra. Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Irfan memastikan, sejak Januari 2020 hingga saat ini, belum ada rute penerbangan maskapai milik BUMN ini yang ditutup selain ke China akibat dampak virus corona.

"Yang ke China aja itu. Kalau terkait efisiensi enggak ada (yang ditutup)," tambahnya.

Pendapatan Garuda Indonesia sepanjang kuartal III 2019 naik 7,9 persen menjadi USD 2,5 miliar dibanding periode sama pada tahun sebelumnya USD 2,3 miliar.

Meski demikian, jumlah penumpang mengalami penurunan mencapai 20,6 persen menjadi 8,2 juta orang dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 10,3 juta.

Sementara untuk anak usaha Garuda Indonesia, Citilink, juga mengalami hal serupa. Jumlah penumpang turun 26,8 persen menjadi 3,1 juta dibanding periode sama pada tahun sebelumnya 4,2 juta.