Bisnis
·
7 Juli 2020 13:02

Dirut Garuda: Jangan Kaget Kalau Ada Maskapai Penerbangan di Indonesia Bangkrut

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Dirut Garuda: Jangan Kaget Kalau Ada Maskapai Penerbangan di Indonesia Bangkrut (8265)
Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra. Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Industri penerbangan menjadi salah satu sektor yang amat terpukul oleh pandemi virus corona. Sejak pandemi COVID-19 baru mulai menyebar di Indonesia hingga saat ini, maskapai penerbangan kehilangan penumpang hingga lebih dari 90 persen.
ADVERTISEMENT
Kondisi yang semakin memburuk itu juga diakui oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra. Dalam rapat panja pemulihan pariwisata dengan Komisi X DPR RI, Irfan mengungkapkan bahwa dibolehkannya maskapai untuk kembali beroperasi tak banyak berpengaruh.
Okupansi penumpang yang tak sampai 10 persen itu sangat dipengaruhi oleh kekhawatiran masyarakat untuk bepergian. Sehingga, orang-orang yang bepergian dengan pesawat saat ini hanya mereka yang memang terpaksa bepergian saja.
Dirut Garuda: Jangan Kaget Kalau Ada Maskapai Penerbangan di Indonesia Bangkrut (8266)
Pesawat Garuda Indonesia Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Keadaan itu, lanjut Irfan, membuat banyak maskapai berada di ambang kebangkrutan. Oleh karena itu, ia menilai bukan hal yang mengejutkan jika ada maskapai yang akhirnya menyatakan tidak kuat lagi.
"Bapak Ibu mengetahui juga banyak maskapai yang menyatakan kebangkrutan. Jadi enggak usah terlalu kaget dalam waktu dekat kalau ada maskapai di Indonesia yang tidak tahan lagi," ujar Irfan dalam rapat yang digelar Selasa (7/7).
ADVERTISEMENT
Irfan memberikan gambaran kondisi tersebut untuk menjawab banyaknya permintaan agar maskapai penerbangan lebih menurunkan lagi harga tiket pesawat. Dengan keadaan yang dihadapi saat ini, ia mengungkapkan akan sangat sulit untuk memberikan insentif tiket pesawat tersebut.
"Betul penting untuk harga yang murah, tapi mohon dipahami hari ini industri penerbangan mengalami pukulan cukup besar, jumlah penumpang tinggal 10 persen. Kalau didiskon lagi harga rendah mungkin klasifikasi kita sebentar lagi menjadi makin sulit," jelasnya.
***
Saksikan video menarik di bawah ini.