Kumparan Logo

Dirut Telkom Soroti Tantangan Infrastruktur di Balik Di Balik Pesatnya Industri AI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno (kedua dari kiri) menyampaikan paparan dalam plenary session bertajuk “The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries?” pada hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Selasa (27/10). Foto: Dok. Telkom
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno (kedua dari kiri) menyampaikan paparan dalam plenary session bertajuk “The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries?” pada hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Selasa (27/10). Foto: Dok. Telkom

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) turut berperan penting mendorong pertumbuhan industri baru yang dapat mengubah cara bisnis hingga operasi layanan publik. Di sisi lain, penerapan teknologi ternyata belum cukup untuk mengubah potensi tersebut menjadi peluang bisnis yang berkelanjutan.

Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom), Nanang Hendarno, menekankan pentingnya membangun ekosistem yang mengintegrasikan teknologi, kebutuhan pengguna, dan investasi agar inovasi dapat berkembang. Hal tersebut disampaikan dalam sesi “The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries?”, di hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026, Selasa (27/10).

Dalam diskusi tersebut, Nanang berbagi pandangan bersama Executive Director sekaligus Chief Executive Officer JINGDONG Coinlink Technology Hong Kong Limited, Teddy Liu, dan Senior Director of International Business Development AtkinsRéalis, Sara Supaamornkul.

Dipandu oleh Managing Director of Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia, Irwan Rei, diskusi ini mengulas berbagai teknologi yang berpotensi melahirkan industri baru di tingkat global, ditinjau dari aspek digital, bisnis, hingga pengembangan infrastruktur.

Nanang menjelaskan bahwa AI berpotensi menjadi layanan yang digunakan secara luas, sehingga peluang bisnisnya tidak hanya terletak pada penjualan teknologi, tetapi juga pada infrastruktur yang menopang penggunaannya. Sejak 2022, biaya per kueri AI telah turun sekitar 280 kali, sementara penggunaan AI di Google meningkat hingga tujuh kali lipat dalam satu tahun.

Menurutnya, penurunan biaya ini membuka peluang peningkatan konsumsi sekaligus memperbesar kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung.

“Peluang terbesar bukan sekadar menjual AI per unit, melainkan membangun infrastruktur yang menopang penggunaannya secara luas. Ketika biaya penggunaan semakin rendah, konsumsi dapat tumbuh lebih cepat. Karena itu, nilai ekonomi akan semakin ditentukan oleh kemampuan menyediakan infrastruktur dan kepercayaan yang dibutuhkan agar AI dapat digunakan secara luas,” ujar Nanang.

Penerapan AI di Bisnis Perusahaan Masih Terbatas

Meski adopsi AI terus meningkat, penciptaan nilai bisnis masih menjadi tantangan. Dalam paparannya, Nanang menyampaikan bahwa 95 persen proyek percontohan (pilot) AI generatif belum memberikan dampak terhadap laba-rugi perusahaan, sementara hanya 25 persen perusahaan yang mencapai tingkat pengembalian investasi (return on investment/ROI) sesuai harapan.

Pemanfaatan AI terus berkembang. Meski begitu, penerapannya dalam proses bisnis perusahaan masih menghadapi tantangan. Hingga kini, baru 21 persen perusahaan yang telah merancang ulang alur kerjanya untuk mengoptimalkan teknologi tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan AI tidak cukup hanya dengan mengadopsi teknologi, tetapi juga membutuhkan penyesuaian proses bisnis. Nanang mengungkapkan, ada lima faktor penting untuk mendukung terbentuknya industri yang berkelanjutan, yakni biaya yang terjangkau, permintaan pasar, penyesuaian alur kerja, ekosistem mitra dan pengembang, serta kepastian standar dan regulasi.

Berdasarkan analisis terhadap potensi pembentukan industri, terdapat lima kandidat industri global masa depan, yang meliputi konektivitas terintegrasi yang mencakup darat, laut, udara, dan edge AI, pusat data AI berskala besar yang didukung komputasi dan energi andal, infrastruktur kepercayaan digital, ekonomi berbasis agen AI (agentic economy), serta layanan otonom berbasis AI (Autonomous-as-a-Service) untuk sektor industri dan pemerintahan. Dua bidang pertama merupakan kapabilitas inti Telkom, sementara tiga lainnya menjadi area yang memiliki potensi besar untuk dilakukan pengembangan.

(kedua dari kiri) Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menyampaikan paparan dalam plenary session bertajuk “The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries?” pada hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Selasa (27/10). Dalam paparannya, Nanang menekankan pentingnya penguatan konektivitas, pusat data, dan ekosistem AI yang didukung keamanan digital sebagai fondasi pengembangan industri masa depan sekaligus memperkuat kedaulatan teknologi Indonesia. Foto: Dok. Telkom

Sebagai perusahaan digital telco terdepan di Indonesia, Telkom membangun fondasi tersebut melalui pengembangan konektivitas, pusat data, serta platform dan aplikasi AI. Telkom memiliki kapasitas satelit sebesar 42,2 Gbps, jaringan serat optik dan kabel laut sepanjang lebih dari 211 ribu kilometer, serta 58 titik kehadiran internasional (international Points of Presence/PoPs).

Di sisi komputasi, NeutraDC mengoperasikan kapasitas pusat data sebesar 48,4 MW per kuartal III 2026 di Indonesia dan Asia Tenggara, dengan aspirasi ekspansi kapasitas hingga 1 gigawatt. Pengembangan infrastruktur pusat data juga perlu didukung ketersediaan energi dan sistem pendinginan yang andal untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI yang terus berkembang.

Sementara itu, melalui Model Hub, Telkom menyediakan akses dan tata kelola model AI global, berdaulat, maupun yang dirancang untuk kebutuhan industri tertentu, sekaligus mendukung pengembangan aplikasi dan kasus penggunaan (use case) AI.

Keseriusan TelkomGroup dalam membangun ekosistem digital nasional juga tercermin melalui peluncuran inisiatif pengembangan Sovereign Digital Technology pada hari pertama DTIIF 2026. Inisiatif ini mencakup empat kapabilitas strategis, yakni AI Ready Data Center, AI ModelHub, National IoT Platform, dan PaDiSera, yang mengintegrasikan infrastruktur komputasi, pengembangan AI, konektivitas perangkat, serta perluasan akses pasar bagi UMKM. Pengembangan ini sejalan dengan upaya TelkomGroup mendukung kemandirian teknologi Indonesia sekaligus memperluas manfaat ekonomi digital bagi berbagai sektor.

“Telkom membangun tiga fondasi utama untuk mendukung perkembangan industri AI, yaitu konektivitas terintegrasi, pusat data berskala besar, serta gerbang model AI dan pengembangan aplikasi. Konektivitas menghubungkan pengguna, pusat data menyediakan kapasitas komputasi, sedangkan ModelHub menghadirkan akses dan tata kelola model AI untuk berbagai kebutuhan. Dengan menghubungkan ketiganya, Telkom dapat menghadirkan kapabilitas teknologi yang relevan bagi pelanggan dan membuka peluang pengembangan layanan baru,” tambah Nanang.

Pengembangan industri AI membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah berperan menetapkan regulasi, termasuk terkait kedaulatan data dan identitas agen AI. Sedangkan perusahaan telekomunikasi dan infrastruktur digital menyediakan konektivitas serta komputasi yang andal, sedangkan pengembang teknologi dan startup menghadirkan solusi sesuai kebutuhan pasar.

Talenta yang memiliki keahlian dalam pengembangan dan integrasi AI turut dibutuhkan agar teknologi dapat diterapkan secara efektif. Di sisi lain, UMKM dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, layanan, dan penjualan.

Nanang juga menilai pentingnya investasi berjangka panjang atau patient capital untuk membangun fondasi yang membutuhkan waktu sebelum menghasilkan keuntungan. Di pasar berkembang seperti Indonesia, investasi perlu dilakukan sebelum permintaan terbentuk, didukung ketersediaan energi yang andal, kepastian perizinan dan regulasi, serta penciptaan permintaan awal.

“Industri global berikutnya tidak hanya dibangun oleh pihak yang paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi juga oleh mereka yang bersedia membangun fondasinya sebelum permintaan pasar terbentuk. Indonesia memiliki kebutuhan dan infrastruktur digital sebagai modal awal. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kapabilitas, membangun kolaborasi, dan mengembangkan industri yang mampu bersaing di tingkat global. Teknologi yang kita bangun hari ini akan menjadi industri global masa depan,” tutup Nanang.