Dolar AS Tembus Rp 16.000, Masyarakat Diminta Tak Panik

Nilai tukar rupiah hari ini tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah hari ini telah menembus level Rp 16.000. President Economist Permatabank Josua Pardede mengatakan tak hanya rupiah, seluruh mata uang negara berkembang melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini.
Pelemahan rupiah ini menyusul terkoreksinya pasar saham AS kemarin. Dow Jones melemah signifikan sebesar 6,30 persen diikuti dengan pelemahan indeks S&P 500 (-5,18 persen) dan Nasdaq (-4,70 persen).
“Pelemahan indeks terjadi seiring dengan kekhawatiran akan penyebaran Covid-19 yang lebih dari 200.000 kasus di seluruh dunia dan berakibat pada melemahnya ekonomi global,” ungkap Joshua kepada kumparan, Kamis (19/3).
Menurut Joshua, pasar keuangan regional cenderung terkoreksi karena investor global mengurangi modalnya dari pasar keuangan negara berkembang dan masuk ke safe haven asset termasuk dolar AS. Potensi perlambatan ekonomi global yang cukup signifikan, diikuti oleh probabilitas pelaku pasar bahwa telah terjadi resesi global, mendorong investor untuk memegang cash dolar AS.
Pada perdagangan Asia hari ini, Nikkei turun hingga -1,73 persen, Hang Seng turun -4,30 persen dan bahkan KOSPI turun hingga di atas -7 persen dan menyebabkan perdagangan di bursa Korea Selatan terhenti karena sudah melewati batas bawah.
“Pasar saham Indonesia pun kembali turun dan kembali dihentikan sementara karena penurunannya sudah berada di atas 5 persen,” ujarnya.
Meski demikian Joshua mengapresiasi sikap Bank Indonesia yang tetap berada di pasar dan secara intensif melakukan langkah-langkah stabilisasi di pasar spot rupiah, pasar Domestik NDF dan pasar SBN.
“Di tengah koreksi di pasar keuangan global, kita perlu mendorong supaya investor domestik juga masuk ke pasar keuangan baik saham dan obligasi untuk membatasi koreksi lebih lanjut yang berikutnya dapat membatasi pelemahan rupiah lebih lanjut,” ujarnya.
Selain itu Joshua juga berharap masyarakat tidak perlu panik dan tidak bertindak spekulatif. Apalagi sebagian masyarakat memiliki pendapatan dan pengeluaran dalam rupiah sehingga tidak terpengaruh langsung terhadap masyarakat.
“Masyarakat dan investor domestik diharapkan tetap tenang melihat perkembangan pasar keuangan saat ini mengingat pemerintah, BI dan OJK sudah mengeluarkan berbagai stimulus kebijakan dalam rangka mengantisipasi dan memitigasi dampak dari Covid-19 pada perekonomian domestik,” tandasnya.
