Ekonom Beberkan Faktor Penentu Rupiah Bisa Menguat Kembali ke Rp 16.000/Dolar AS
·waktu baca 5 menit

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menghadapi pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Pada Kamis (28/5) siang, rupiah sempat berada di level Rp 17.905 per dolar AS.
Sementara dalam APBN 2026, pemerintah menyepakati asumsi dasar nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp 16.500 per dolar AS.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, sempat memperkirakan rupiah berpeluang bergerak mendekati level asumsi APBN pada akhir tahun. Namun, imbas gejolak pasar yang terjadi pada beberapa waktu terakhir, pola rupiah kini diperkirakan akan melemah.
“Namun tekanan yang terjadi sekarang ternyata jauh lebih dalam dibanding perkiraan awal sehingga ruang pemulihannya menjadi semakin terbatas,” kata Yusuf saat dihubungi kumparan, Kamis (28/5).
Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang dapat membantu rupiah kembali menguat. Faktor pertama adalah arah kebijakan suku bunga The Fed. Ia menjelaskan, selama ini dolar AS tetap kuat karena bank sentral AS masih mempertahankan suku bunga tinggi. Apabila nantinya muncul sinyal pemangkasan suku bunga yang lebih jelas pada paruh kedua tahun ini, tekanan terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah dinilai dapat mulai berkurang.
Faktor kedua adalah pergerakan harga minyak dunia. Ia menilai pelemahan rupiah belakangan turut dipicu kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Saat harga minyak naik, kebutuhan impor energi Indonesia ikut meningkat sehingga permintaan dolar AS menjadi lebih besar.
“Kalau tensi geopolitik mereda dan harga minyak turun, tekanan terhadap rupiah juga bisa ikut berkurang,” ucap Yusuf.
Selain itu, Yusuf mengatakan masuknya kembali arus modal asing ke pasar obligasi domestik juga menjadi faktor penting. Menurutnya, pemerintah mulai melihat aliran dana asing kembali masuk meskipun belum terlalu kuat. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah juga disebut masih melakukan intervensi terukur melalui pasar obligasi, pengelolaan devisa hasil ekspor, serta berbagai langkah stabilisasi lainnya guna menjaga agar pelemahan rupiah tidak bergerak terlalu tajam.
Meski demikian, ia menilai peluang rupiah kembali ke bawah level Rp 17.000 per dolar AS saat ini masih cukup sulit. Ia mengatakan tekanan terbesar justru berasal dari faktor eksternal yang berada di luar kendali pemerintah.
“Pasar masih melihat The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Selama selisih suku bunga Indonesia dan Amerika belum cukup menarik, investor global akan lebih nyaman menempatkan dana mereka di aset berbasis dolar AS,” jelas Yusuf.
Ia juga menyoroti faktor musiman pada paruh kedua tahun ini berupa pembayaran dividen dan repatriasi keuntungan perusahaan asing. Kondisi tersebut dinilai cenderung meningkatkan permintaan dolar di pasar domestik sehingga menambah tekanan terhadap rupiah.
Dari sisi domestik, ia menilai tantangan struktural juga masih cukup besar. Ketika konsumsi dan investasi meningkat, impor biasanya tumbuh lebih cepat dibanding ekspor. Situasi tersebut dinilai dapat memperlebar defisit transaksi berjalan dan meningkatkan kebutuhan valuta asing.
“Karena itu ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga sebenarnya menjadi terbatas. Jika suku bunga diturunkan terlalu cepat di tengah tekanan kurs, risiko keluarnya modal asing justru bisa semakin besar,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya faktor kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah. Menurutnya, selama disiplin anggaran tetap terjaga dan defisit APBN diyakini aman di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), tekanan terhadap rupiah biasanya lebih terkendali.
“Sebaliknya, jika muncul keraguan terhadap pengelolaan fiskal atau konsistensi kebijakan ekonomi, pasar bisa merespons negatif dan memicu arus keluar modal. Dalam situasi seperti ini, komunikasi pemerintah menjadi sangat penting,” ujar Yusuf.
Di sisi lain, IRRD Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menilai proyeksi nilai tukar rupiah tahun ini ketika masih menghadapi tekanan berat maka diperkirakan akan berada di level Rp 17.602 per dolar AS.
“Jadi kondisi harga minyak yang tinggi tersebut membuat investor kelihatannya enggan untuk lama-lama menaruh aset investasinya di negara emerging market yang memiliki status sebagai net oil importer,” tutur Myrdal kepada kumparan.
Meski demikian, ia menilai rupiah masih berpeluang kembali menguat ke kisaran Rp 16.500 hingga Rp 16.900 per dolar AS sesuai asumsi APBN, dengan sejumlah syarat tertentu. Salah satu syarat utamanya adalah melimpahnya suplai valuta asing domestik, terutama melalui masuknya devisa hasil ekspor sumber daya alam nonmigas ke dalam likuiditas valas domestik. Katanya, hasil ekspor sumber daya alam nonmigas sebaiknya dikonversi 100 persen ke rupiah di dalam negeri.
“Syukur-syukur juga yang hasil ekspor untuk barang-barang yang lain, komoditas lain seperti manufaktur ataupun juga komoditas seperti hasil non-manufaktur yang lain,” ujar Myrdal.
Ia melanjutkan, syarat berikutnya adalah kondisi ekspor Indonesia harus terus mencatatkan surplus dengan nilai yang cukup besar. Ia menambahkan, surplus perdagangan yang kuat juga perlu diperkuat dengan kondisi sosial politik domestik yang solid. Dengan kondisi tersebut, foreign direct investment (FDI) dinilai berpotensi masuk ke Indonesia dalam jumlah besar.
“Dan yang masuknya itu jumlahnya besar, misalkan per kuartalnya lebih dari 4 miliar USD net-nya FDI-nya. Itu bisa bikin rupiah kembali menguat ke level tersebut,” kata Myrdal.
Selain faktor perdagangan dan investasi, ia juga menilai sektor pariwisata dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan rupiah. Menurutnya, pemerintah dan lembaga terkait perlu memperkuat promosi pariwisata Indonesia dengan menonjolkan kondisi sosial politik yang aman agar semakin banyak wisatawan asing datang dan melakukan aktivitas belanja di dalam negeri.
“Dan itu yang akan membuat rupiah bisa menguat ke level tersebut ke level 16.500 sampai 16.900. Tapi itu syaratnya ya,” ucap Myrdal.
