Ekonom Bicara Dampak Ramadhan dan Lebaran 2023 ke Laju Inflasi April
·waktu baca 2 menit

Ekonom menilai momen Ramadhan dan Lebaran 2023 bakal berpengaruh ke laju inflasi di April. Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, memperkirakan inflasi pada periode tersebut akan meningkat ke kisaran 5,5 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Ia mengungkapkan pangan dan transportasi akan menjadi kontributor terbesar pada inflasi yang dipengaruhi momen Ramadhan dan Lebaran 2023.
"Kalau komponen pangan itu 20 persen, transportasi 12.3 persen," ucap Riefky kepada kumparan.
Riefky memproyeksikan inflasi pada akhir tahun kemungkinan akan mencapai di level 4 persen. Namun, ia tidak menilai tingkat inflasi bisa di bawah angka tersebut.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memproyeksi laju inflasi per April 2023 mencapai 5,1 persen secara tahunan dan 1,07 persen bulanan.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, memaparkan komponen penyumbang terbesar inflasi antara lain bahan makanan, makanan jadi, dan rokok serta transportasi.
“Konsumsi secara musiman dipengaruhi ramadhan dan lebaran. Jadi puncak konsumsi hari keagamaan jatuh pada pertengahan April dan ini dibarengi oleh pencairan THR,” terang Bhima, Selasa (25/4).
Bhima mengatakan masyarakat yang telah lama menahan mudik lebaran karena pandemi, mulai membelanjakan uang untuk beli tiket transportasi, makanan minuman jadi, pakaian jadi, dan alas kaki.
“Jadi hampir semua komponen pengeluaran mengalami inflasi,” ujar Bhima
Bhima juga menuturkan selain tingginya permintaan, terdapat isu pasokan pangan yang harganya masih tinggi. Bahkan, inflasi yang disebabkan oleh persoalan pasokan masih akan membayangi inflasi umum pasca lebaran selesai.
“Ini pertemuan antara inflasi sisi permintaan karena lebaran dan inflasi sisi pasokan, sehingga pemerintah harus lakukan intervensi khususnya beras, minyak goreng, daging dan cabai,” tutur Bhima.
