Ekonom: Hari Belanja Online Tak Banyak Dorong Konsumsi Masyarakat

Hari belanja online (Harbolnas) yang diselenggarakan pada hari ini (11/11) serta bulan depan, (12/12), diperkirakan tak akan signifikan mendorong konsumsi masyarakat di kuartal IV 2019.
Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah, mengatakan promosi dan diskon pada Harbolnas memang meningkatkan konsumsi rumah tangga.
Namun menurut dia, hal tersebut tak akan berdampak signifikan. Menurut dia, momen Natal dan Tahun Baru lah yang lebih mendominasi dampak kenaikan konsumsi di kuartal ini.
"Konsumsi kuartal IV ini diproyeksikan akan naik dengan merujuk pola musiman yang terjadi setiap tahunnya. Pada kuartal IV, konsumsi akan meningkat karena adanya libur Natal dan Tahun Baru," ujar Piter kepada kumparan, Senin (11/11).
Menurut Piter, meskipun Harbolnas bertebaran diskon dan promosi, hal ini akan mengurangi saluran belanja konvensional lainnya. Sehingga dampaknya ke konsumsi akan terbatas.
"Sementara sampai saat ini BPS juga belum bisa menangkap transaksi di laman belanja online ke pertumbuhan ekonomi kita. Cukup sulit, karena yang bisa tertangkap kan baru yang offline saja," katanya.
Bahkan Piter memproyeksi, konsumsi rumah tangga selama kuartal IV 2019 hanya akan 4,99 persen (yoy), melanbat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mampu tumbuh 5,08 persen (yoy).
Ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus, memiliki pandangan yang sama. Menurut dia, konsumsi rumah tangga menunjukkan pola yang cenderung stagnan bahkan melambat. Di kuartal II 2019, konsumsi hanya tumbuh 5 persen.
"Artinya ini kan hanya terpaut 0,1 persen poin, hanya terpaut sedikit, menunjukkan bahwa konsumsi akhir-akhir ini cenderung melambat," katanya.
Heri melanjutkan, pendapatan masyarakat juga lebih banyak masuk ke tabungan dan deposito dibandingkan untuk konsumsi.
"Jadi memang polanya juga seperti itu. Agak cukup sulit juga kalau Harbolnas mendongkrak konsumsi kita," jelasnya.
Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia (BI) per Oktober 2019, tendensi masyarakat untuk menabung justru lebih tinggi dibandingkan dengan September 2019.
Porsi tabungan terhadap pendapatan per Oktober 2019 meningkat dari 19,4 persen pada bulan sebelumnya menjadi 19,8 persen. Adapun porsi pendapatan untuk konsumsi menurun dari 68 persen pada September 2019 menjadi 68,8 persen per Oktober 2019.
Hal ini berbanding terbalik dibandingkan tren 2018, pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 67,1 persen pada September 2018 menjadi 67,7 persen pada Oktober 2018.
Porsi pendapatan yang ditabung pun menurun dari 20,1 persen pada September 2018 menjadi 19,6 persen pada Oktober 2018.
