Kumparan Logo

Ekonom Soroti Dampak dari Rupiah Melemah di Atas Asumsi Rp 17.500 pada 2027

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Teller Bank Mandiri menunjukkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Bank Mandiri KCP Jakarta DPR, Senin (7/1/2019). Kurs Rupiah terhadap Dolar AS menguat 1,3 persen menjadi Rp14.080.  Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
zoom-in-whitePerbesar
Teller Bank Mandiri menunjukkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Bank Mandiri KCP Jakarta DPR, Senin (7/1/2019). Kurs Rupiah terhadap Dolar AS menguat 1,3 persen menjadi Rp14.080. Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Pemerintah telah menetapkan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp 17.500 per dolar AS dalam RAPBN 2027. Asumsi tersebut naik jika dibandingkan dengan asumsi RAPBN 2026 sebesar Rp 16.500 per Dolar AS.

Economic Researcher CORE, Yusuf Randy Manilet, menilai angka tersebut masih cukup optimistis apabila digunakan sebagai rata-rata tahunan. Pasalnya, sepanjang 2026 rupiah telah bergerak di atas level tersebut, dengan rata-rata semester I sekitar Rp 17.200 dan sempat melemah hingga di atas Rp 17.700.

“Artinya, untuk mencapai rata-rata Rp 17.500 pada 2027, rupiah perlu menguat dan bertahan cukup konsisten,” kata Yusuf saat dihubungi kumparan, Sabtu (29/8).

Menurutnya, peluang rupiah mencapai asumsi tersebut tetap terbuka apabila tekanan global mereda, arus modal kembali masuk, dan kebijakan pengelolaan devisa hasil ekspor mampu meningkatkan pasokan dolar AS di dalam negeri. Namun, tantangan masih cukup besar, terutama karena defisit transaksi berjalan yang melebar menunjukkan kebutuhan devisa Indonesia masih tinggi. Selain itu, ketidakpastian geopolitik dan potensi kenaikan harga energi juga membuat rupiah tetap rentan terhadap tekanan eksternal.

“Saya melihat Rp 17.500 lebih tepat disebut sebagai asumsi yang optimistis daripada baseline yang benar-benar aman. Konsensus pasar cenderung menempatkan kurs 2027 di Kisaran Rp 17.200 sampai Rp 17.700. Angka pemerintah masih berada di sisi yang cukup cerah dari spektrum tersebut,” tutur Yusuf.

Ia menjelaskan, apabila rupiah bergerak lebih lemah dari asumsi Rp 17.500, tekanan terhadap APBN akan terasa terutama melalui subsidi energi, pembayaran utang dalam valuta asing, dan biaya pembiayaan.

Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya pengadaan BBM dan listrik, khususnya apabila harga minyak juga berada di atas asumsi pemerintah. Dalam RAPBN 2027, setiap pelemahan Rp 100 per dolar AS diperkirakan meningkatkan belanja sekitar Rp 8 triliun, sementara tambahan pendapatan diperkirakan sekitar Rp5 triliun.

“Defisit pun berpotensi melebar sekitar Rp 3 triliun untuk setiap pelemahan Rp 100,” ucapnya.

Tekanan juga berpotensi berasal dari posisi utang pemerintah. Sekitar seperempat utang pemerintah masih berdenominasi valuta asing sehingga pelemahan rupiah akan meningkatkan nilai pembayaran dalam rupiah. Selain itu, risiko nilai tukar dapat mendorong kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Kenaikan yield sebesar 0,1 persen saja diperkirakan dapat menambah belanja bunga sekitar Rp 1,8 triliun.

Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar juga dapat merembet ke sejumlah asumsi ekonomi lainnya. Apabila rupiah melemah hingga Rp 18.000 per dolar AS dan bertahan di level tersebut, inflasi impor berpotensi meningkat, ruang penurunan suku bunga menjadi lebih terbatas, dan investasi dapat tertahan.

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan

“Target pertumbuhan 6 persen pun ikut menghadapi tekanan. Masalahnya bukan hanya tambahan belanja beberapa triliun rupiah, tetapi potensi tekanan bersamaan pada subsidi, bunga utang, inflasi, dan pertumbuhan,” ujarnya.

Yusuf menilai asumsi Rp 17.500 per dolar AS bukan angka yang tidak masuk akal, tetapi pencapaiannya membutuhkan kondisi global dan domestik yang cukup mendukung.

“Untuk perencanaan fiskal, pemerintah tetap perlu menyiapkan skenario ketika rupiah berada di Rp 18.000 atau lebih lemah,” ujarnya.

Menambahkan Yusuf, Ekonomi INDEF Rizal Taufikurahman menilai asumsi rupiah Rp 17.500 per dolar AS pada 2027 masih berpeluang tercapai, tetapi relatif optimistis apabila melihat tekanan eksternal dan domestik saat ini. Tantangan tersebut tidak hanya berasal dari arah dolar AS dan suku bunga global, tetapi juga dari kekuatan arus modal masuk, kebutuhan valuta asing untuk impor dan pembayaran kewajiban eksternal, serta kredibilitas kebijakan domestik.

“Artinya, asumsi Rp 17.500 membutuhkan kombinasi stabilitas global yang lebih baik dan fundamental domestik yang cukup kuat. Jika tidak, rupiah berpotensi bergerak lebih lemah dari asumsi APBN,” kata Rizal kepada kumparan.

Dari sisi fiskal, ia menjelaskan pelemahan rupiah di atas asumsi akan meningkatkan tekanan terhadap belanja yang sensitif terhadap valuta asing, terutama pembayaran bunga dan pokok utang valas, subsidi dan kompensasi energi, serta belanja yang memiliki kandungan impor. Meskipun pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan sejumlah penerimaan, terutama penerimaan migas dan komoditas berbasis dolar AS, dampak bersihnya belum tentu positif karena struktur belanja pemerintah juga cukup sensitif terhadap depresiasi rupiah.

Oleh karena itu, Rizal menyampaikan perhatian pemerintah tidak semestinya hanya tertuju pada apakah asumsi Rp17.500 per dolar AS dapat tercapai, tetapi juga pada kesiapan APBN menghadapi deviasi nilai tukar.

“Pemerintah perlu menyiapkan stress test pada skenario Rp 18.000 bahkan Rp 18.500 per dolar AS, berikut ruang realokasi dan buffer fiskalnya,” sebut Rizal.

Ia menuturkan apabila rupiah mengalami pelemahan yang cukup dalam sementara penerimaan tidak ikut menguat, ruang fiskal pemerintah akan semakin terbatas dan risiko penyesuaian belanja menjadi lebih besar.

“Jadi, asumsi kurs harus realistis agar RAPBN tidak terlalu rentan terhadap shock eksternal,” imbuh Rizal.