Ekonomi Greater Bay Area China yang Unik & Kesiapan Shenzen Jadi Tuan Rumah APEC
ยทwaktu baca 5 menit

Partai Komunis China (PKC) atau Communist Party of China (CPC) tengah bersiap-siap kembali menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) untuk ketiga kalinya. Pada tahun 2026, pertemuan pemimpin APEC akan dipusatkan di Shenzhen.
Shenzhen dikenal sebagai kota teknologi dan termasuk pada kawasan Greater Bay Area (GBA). Kawasan ini mencakup beberapa kota pesisir dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat di China, yakni Guangzhou dan Shenzhen yang berada di Provinsi Guangdong, serta Hong Kong dan Makau.
Secretary of the CPC Guangdong Provincial Committee, Huang Kunming, mengatakan bahwa kawasan GBA menjadi salah satu fokus Presiden China dan Sekretaris Jenderal PKC Xi Jinping, yang dibangun menjadi kota berkualitas tinggi dan pelopor modernisasi China.
"Guangdong selalu mengingat instruksi ini, mengambil inisiatif untuk bertindak sebagai kekuatan pendorong dan mesin penggerak. Bekerja sama dengan Hong Kong dan Makau, kami telah mengubah cetak biru GBA menjadi kenyataan yang menjanjikan," katanya saat Thematic Briefing Story of CPC di Shenzhen, China, Kamis (23/4).
Kunming mengatakan, GBA adalah wilayah yang unik dengan pembangunan terpadu antara Guangdong, Hong Kong, dan Makau melalui prinsip satu negara, dua sistem, tiga wilayah pabean, dan tiga mata uang. Dalam keadaan tersebut, lanjut dia, PKC fokus pada peningkatan konektivitas dalam infrastruktur.
"Infrastruktur transportasi lintas batas, seperti Kereta Api Cepat Guangzhou-Shenzhen-Hong Kong dan Jembatan Hong Kong-Zhuhai-Makau, telah selesai dibangun. Kami telah meluncurkan serangkaian kebijakan, termasuk yang memfasilitasi arus lintas batas orang, kendaraan, faktor produksi, sumber daya, dan layanan pemerintah," jelas Kunming.
Proyek infrastruktur yang dikebut tersebut, menurut Kunming, membuat kawasan GBA menjadi suatu kota dengan konektivitas yang erat dan pembangunan ekonomi yang terkoordinasi.
Hal ini terlihat dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan GBA yang melesat, dari USD 10,2 triliun pada tahun 2017, menjadi lebih dari USD 15 triliun pada tahun 2025. Angka ini, lanjut Kunming, tidak termasuk PDB wilayah Guangdong lainnya.
"Kawasan ini telah membina tiga kota, Guangzhou, Shenzhen, dan Hong Kong, masing-masing dengan PDB melebihi 3 triliun yuan. Pertumbuhan yang kuat ini telah mendorong wilayah sekitarnya dan mendukung seluruh negara," tuturnya.
Kawasan GBA menjadi pusat ekosistem inovasi dan teknologi China seperti Huawei, BYD, Tencent, dan Gree, serta perusahaan teknologi baru seperti DJI, Insta360, SenseTime, dan UBtech. Menurutnya, GBA menjadi salah satu kawasan paling terbuka dan dinamis secara ekonomi di China dan menghubungkan sirkulasi perdagangan baik itu domestik maupun internasional.
Kunming mencatat total volume throughput kontainer di GBA mencapai 89,62 juta TEU dan throughput penumpang bandara mencapai 237 juta pada tahun 2025. Dia menyebut keduanya menempati peringkat pertama di antara empat kawasan pesisir utama di dunia.
"Proyek investor asing dengan proyeksi investasi puluhan juta dolar, seperti BASP dan ExxonMobil, telah selesai dan mulai beroperasi. Semakin banyak perusahaan dan lembaga yang berinvestasi dan membangun kehadirannya di GBA," ungkap Kunming.
Kunming menegaskan bahwa serangkaian acara APEC 2026 akan dilaksanakan di Guangzhou dan Shenzhen. Ia berharap bahwa perhelatan ini menciptakan peluang yang baik bagi perekonomian GBA.
"Saya dengan tulus mengundang Anda untuk menyaksikan perkembangan baru GBA dan dinamika baru modernisasi China, serta untuk memperkuat kepercayaan Anda dalam bergerak maju bersama China dan mengejar kerja sama yang saling menguntungkan melalui peluang bersama," tegasnya.
Sementara itu, Ministry of the International Department of the CPC Central Committee, Liu Haixing, menjelaskan bahwa ekonomi GBA telah melampaui kota raksasa pesisir lain di seluruh, seperti New York dan San Fransisco sejak tahun 2024.
"Selama periode Rencana Lima Tahun ke-14, kawasan Beijing-Tianjin-Hebei, Delta Sungai Yangtze, dan Kawasan GBA, yang hanya menggunakan 6,6 persen dari luas daratan China, menyumbang lebih dari 40 persen dari PDB nasional," jelasnya.
Kesiapan Shenzhen Jadi Tuang Rumah APEC
Secretary of the CPC Shenzhen Municipal Committee, Jin Lei, mengatakan bahwa pemerintah telah mempercepat pembangunan kota Shenzhen. Pada 2025, PDB Shenzhen mencapai USD 3,87 triliun dengan PDB per kapita sebesar 210.000 yuan.
"Intensitas energi, air, dan emisi karbonnya adalah yang terendah di antara kota-kota di China, menjadikan Shenzhen sebagai mikrokosmos pembangunan berkualitas tinggi di China," tuturnya.
Lei melanjutkan, Shenzhen yang terintegrasi dalam kawasan GBA ini memanfaatkan lokasi regional sebagai tetangga Hong Kong dan Makau, keunggulan sebagai pusat penghubung pasar domestik dan internasional, hingga budaya yang inklusif dan beragam.
"Volume perdagangan luar negeri total telah menduduki peringkat pertama di antara kota-kota Tiongkok selama dua tahun dan ekspor telah menjadi yang terbesar selama 33 tahun," ungkapnya.
Tidak hanya itu, dia mengungkapkan bahwa intensitas pertumbuhan teknologi Shenzhen sangat besar, dengan investasi penelitian dan pengembangan (R&D) dan paten internasional Patent Cooperation Treaty (PCT) menduduki peringkat pertama di antara kota-kota lain di China.
"Terdapat lebih dari 26.000 perusahaan teknologi tinggi nasional. Klaster teknologi Shenzhen-Hong Kong-Guangzhou menduduki peringkat pertama di dunia," tutur Lei.
Lei menyebutkan, tahun 2026 merupakan tahun yang sangat penting yakni peringatan 105 tahun berdirinya Partai Komunis China dan tahun pertama Rencana Lima Tahun ke-15. Pada November mendatang, Shenzhen akan menjadi tuan rumah KTT APEC ke-33.
"Kami akan dengan sungguh-sungguh melaksanakan instruksi dari Komite PKC Provinsi Guangdong dan memberikan layanan untuk pertemuan APEC di mana kami akan menunjukkan gaya China dan pesona serta ciri khas unik kami sehingga kisah Shenzhen akan menunjukkan kemajuan modernisasi China," tandasnya.
