Ekonomi Melambat Dua Kuartal Berturut-turut, Singapura Bakal Resesi?
·waktu baca 3 menit

Setelah menjalani awal tahun 2025 yang cukup baik, pemerintah Singapura kini mulai mengingatkan soal risiko resesi teknis, yaitu kondisi ketika ekonomi mengalami penyusutan selama dua kuartal berturut-turut.
Ini bisa menjadi resesi teknis pertama sejak pandemi COVID-19.
Pada kuartal pertama tahun 2025, ekonomi Singapura tumbuh sebesar 3,9 persen secara tahun-ke-tahun, melambat dari pertumbuhan 5,0 persen pada kuartal sebelumnya.
Pada kuartal II 2025 pertumbuhan ekonomi Singapura kembali melambat ke level 2,5 persen dibanding kuartal I 2025.
Sekretaris Kementerian Perdagangan Singapura, Beh Swan Gin, menjelaskan kondisi tidak dapat diartikan sebagai resesi yang parah. Pemerintah tetap memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini berada di kisaran 0 persen hingga 2 persen.
“Kontraksi seperti itu yang didefinisikan sebagai kontraksi selama dua kuartal berturut-turut tidak serta merta berarti resesi ekonomi yang parah,” kata Gin dikutip Bloomberg, Minggu (25/5).
Singapura menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang mulai merasakan dampak perlambatan ekonomi. Terutama karena perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang makin memanas.
Resesi teknis seperti ini sebelumnya hanya terjadi dua kali dalam 20 tahun terakhir yakni saat pandemi tahun 2020 dan saat krisis keuangan global pada 2008.
Perdana Menteri Lawrence Wong, yang baru saja terpilih kembali, telah mengeluarkan miliaran dolar dalam bentuk bantuan untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup dan menciptakan lapangan kerja.
Tapi karena ekonomi Singapura sangat bergantung pada perdagangan global, situasinya tetap rentan terhadap konflik dagang besar seperti sekarang.
Apakah Singapura Sudah Masuk Resesi?
Beberapa data terbaru menunjukkan situasi yang campur aduk. Penjualan ritel mulai stabil setelah turun selama tiga kuartal, terutama karena penjualan mobil meningkat.
Namun, tanda-tanda kehati-hatian mulai muncul, misalnya dari harga sertifikat kepemilikan mobil (COE) yang tetap tinggi, di atas 100.000 dolar Singapura (sekitar USD 77.845), bahkan untuk mobil kecil. Ini menunjukkan bahwa konsumen masih punya daya beli, tapi juga mulai berhitung.
Kepala Ekonom OCBC, Selena Long, mengatakan sektor akomodasi kembali tertekan karena penurunan tarif sewa hotel. Sektor makanan dan minuman juga masih lesu. Penjualannya menurun selama empat kuartal berturut-turut, terutama di pusat jajanan dan restoran.
“Mata rantai layanan yang paling lemah adalah akomodasi, yang kembali mengalami kontraksi, tertekan oleh penurunan sewa di beberapa bagian industri perhotelan,” kata Ling.
Satu hal yang masih cukup kuat adalah pasar properti. Meskipun sudah ada kebijakan pemerintah untuk mendinginkan pasar dan tekanan dari ekonomi global, sektor ini sejauh ini tetap bertahan.
Kondisi ini berbeda dengan Hong Kong, yang mengalami pelemahan tajam karena suku bunga tinggi dan harga rumah yang turun. Bahkan beberapa keluarga kaya di sana mulai menjual properti mewah.
