Kumparan Logo

Ekonomi RI Stabil, India 'Babak Belur'

kumparanBISNISverified-green

comment
18
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perdana Menteri India Narendra Modi (kanan) ditemani oleh Presiden Indonesia Joko Widodo (kiri) di istana kepresidenan di Jakarta pada 30 Mei 2018. Foto: AFP/GOH CHAI HIN
zoom-in-whitePerbesar
Perdana Menteri India Narendra Modi (kanan) ditemani oleh Presiden Indonesia Joko Widodo (kiri) di istana kepresidenan di Jakarta pada 30 Mei 2018. Foto: AFP/GOH CHAI HIN

Ekonomi India mengalami fase-fase penurunan sepanjang 2019. Perang dagang dan perlambatan ekonomi dunia berdampak terhadap ekonomi India.

Menurut laporan The Economist, Kamis (31/10), pertumbuhan ekonomi India anjlok dari 8 persen di kuartal II 2018 menjadi hanya 5 persen di kuartal II 2019.

Sementara Indonesia sebagai sesama negara berkembang, pertumbuhan ekonominya relatif stabil di 5 persen, meskipun dibayang-bayangi perlambatan ekonomi.

Bank Dunia mencatat pertumbuhan PDB Indonesia (ekonomi) relatif stabil di angka 5-an persen selama 14 kuartal, meskipun angka tersebut di bawah target Presiden Jokowi di angka 7 persen.

Berdasarkan proyeksi Bank Dunia, perekonomian Indonesia hanya akan tumbuh di kisaran 5 persen di 2019 dan 5,1 persen di 2020.

"Terakhir Indonesia mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang stabil, konsisten dalam kisaran antara 4,9-5,3 persen," tulis laporan Bank Dunia.

Balik lagi ke India, anjloknya pertumbuhan ekonomi dinilai masih belum bisa dikategorikan resesi karena The Economist menilai masih banyak negara berkembang yang ekonominya tumbuh di bawah 5 persen.

Namun, The Economist memperingatkan India untuk menaikkan perekonomiannya, karena India memiliki angkatan usia siap kerja sebanyak 519 juta jiwa. Bila ekonomi terus melambat, maka angka pengangguran bisa meroket.

"Tapi India butuh tumbuh lebih cepat agar angkatan kerja mereka tetap dalam posisi bekerja (tidak menganggur)," tulis The Economist.

Sementara Direktur Center of Reform on Economic (Core) Indonesia, Piter Abdullah, mengatakan pertumbuhan ekonomi India memang terpukul, tapi belum dapat dikatakan resesi.

Indikator suatu negara bisa disebut mengalami resesi bila pertumbuhan ekonominya selama 2 kuartal berturut-turut tercatat negatif.

"Pertumbuhan ekonominya masih positif di kisaran 5 persen, sama dengan Indonesia. Resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi sudah negatif 2 triwulan berturut-turut," ungkap Piter kepada kumparan.

Bila membandingkan dari sudut pandang rasio ekspor produk dan jasa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), kontribusinya (baik Indonesia dan India) sama-sama di angka 20 persen di 2018. Artinya, porsi ekspor produk dan jasa memiliki besaran tak jauh beda terhadap perekonomian kedua negara.

Namun, efek perang dagang dan perlambatan ekonomi dunia lebih memukul India dalam hal ekspor sehingga memicu anjloknya pertumbuhan ekonomi.

"Tapi India memang terdampak lebih besar oleh perlambatan ekonomi global. Wajar karena sebelumnya India mengalami pertumbuhan ekonomi yang demikian tinggi yaitu 8 persen. Ketika permintaan global menurun, harga komoditas juga turun, dampaknya besar terhadap pertumbuhan ekonomi India," ujar Piter.

Untuk mengerem perlambatan ekonomi, salah satu jalan adalah menaikkan belanja pemerintah. Akibatnya defisit fiskal atau defisit anggaran India membengkak ke angka 9 persen terhadap PDB.

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Sementara Indonesia, Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Luky Alfirman, mengatakan defisit APBN Indonesia hingga penghujung 2019 akan berada di posisi 2 - 2,2 persen.

Angka itu melampaui target APBN 2019 sebesar 1,87 persen dan outlook 1,93 persen. Bila melihat rasio, defisit Indonesia jauh lebih kecil daripada India dan masih di bawah batas aman yang ditetapkan Undang-Undang sebesar 3 persen.

Sementara itu, Piter memandang defisit anggaran yang melebar juga bukan cerminan resesi. Pelebaran defisit justru biasanya merupakan indikasi bahwa pemerintah berupaya melawan perlambatan ekonomi.

Terakhir yang menjadi catatan The Economist adalah rasio kredit macet (Non-performing Loan/NPL). Total kredit macet di India mencapai USD 200 miliar selama periode April-September 2019.

Di saat bersamaan pembiayaan untuk sektor dunia usaha anjlok hingga 88 persen karena suku bunga pinjaman tetap tinggi dan tidak turun, padahal Bank Sentral India telah 5 kali memangkas suku bunga acuan sepanjang 2019.

Piter menilai perlambatan ekonomi memang berdampak terhadap rasio NPL India. Menurut data CEIC, rasio NPL India meningkat dari 9,3 persen pada Maret 2017 menjadi 11,2 persen pada Maret 2018.

Sementara itu, NPL di Indonesia pada Agustus 2019 relatif terjaga di 2,60 persen, atau berada di batas aman di bawah 5 persen.