Eks Agen: Direksi Jiwasraya 2018 Tak Ada Kapabilitas Kelola Investasi

Penyebab masalah keuangan yang membelit BUMN asuransi yakni PT Asuransi Jiwasraya (Persero), masih mengundang pertanyaan. Perusahaan asuransi pelat merah itu mengalami gagal bayar kewajibannya kepada nasabah sebesar Rp 802 miliar, pertama kali pada Oktober 2018.
Agen produk bancassurance JS Saving Plan, Getta Leonardo Arisanto, menyatakan sebelum 2018 Jiwasraya tak pernah mengalami tekanan likuiditas.
“Sepanjang jalan dari 2008, 2009, 2010…. sampai 2017, versi yang ini, tidak pernah Jiwasraya mengalami tekanan likuiditas. Karena kita melihat tren yang namanya cashflow,” kata Getta dalam perbincangan dengan kumparan, Selasa (7/1).
Dia menilai, masalah bermula ketika peralihan kepemimpinan di jajaran direksi pada Januari 2018 tidak berjalan secara mulus.
Menurut Getta, di akhir kepemimpinan Hendrisman Rahim sebagai Direktur Utama Jiwasraya, ada dana tunai Rp 6 triliun. “Waktu hands over ada Rp 6 triliun dana cash. Harusnya cash ini diinvestasikan, dibelikan apa gitu. Apa yang terjadi? Dipakai bayar (polis) yang jatuh tempo saja. Ya habis lah barang ini,” ujarnya.
Sebagai agen bancassurance, Getta memegang penjualan produk di Bank Standard Chartered dan Bank Victoria. Pada 2017, dia mengaku berhasil melampaui target penjualan yang dibebankan perusahaan kepadanya, yakni sebesar Rp 5 triliun.
Pada pertengahan 2018, lanjutnya, dia sudah menangkap indikasi adanya masalah keuangan yang dialami Jiwasraya. Dia pun mengaku menyampaikan masalah ini kepada direksi saat itu. Menurutnya, pada 26 Juli 2018 dana premi yang masuk sebesar Rp 4,167 triliun. Sedangkan beban yang harus ditanggung perusahaan Rp 8,6 triliun.
Sebagai seorang sales, dia menilai masalah itu bisa diatasi antara lain jika Jiwasraya masih menjual produk kepada nasabah.
“Saya menyarankan untuk tetap jualan karena kompetitor lain juga masih jual dengan rate lebih tinggi. Jiwasraya bilang… Jiwasraya punya duit paling maksimal sampai September sampai Oktober. Saya ngomong gitu sampai ke direktur pemasaran. Tapi enggak didengerin. Mereka bilang, ‘Bapak cuma agen’,” imbuhnya.
Hal itu kemudian terbukti ketika pada Oktober 2018, Jiwasraya mengalami gagal bayar. Padahal masalah itu sebelumnya tak pernah terjadi.
“Berarti apa? Mereka (direksi) tidak ada punya kapabilitas untuk melakukan investasi titik. Kalau mereka bisa, tidak akan terjadi masalah kayak gini,” kata Getta yang sudah mengundurkan diri dari Jiwasraya pada 26 Oktober 2018.

