Kumparan Logo

Ekspansi ke Bisnis Batu Bara, Hary Tanoe Akuisisi BCR Senilai USD 140 Juta

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hary Tanoe. Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
zoom-in-whitePerbesar
Hary Tanoe. Foto: Antara/Rivan Awal Lingga

Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo memastikan pihaknya sudah disetujui pemilik saham untuk ekspansi bisnis ke tambang batu bara dan mengubah nama PT Indonesia Transport dan Infrastructure Tbk atau IATA menjadi PT MNC Energy Investments Tbk.

Selain itu, Perseroan juga telah mendapat restu untuk mengambil alih 99,33 persen saham PT Bhakti Coal Resources (BCR) dari PT MNC Investama Tbk (BHIT). Hary Tanoe mengungkapkan nilai transaksi dari akuisisi tersebut mencapai USD 140 juta.

“(Nilai transaksi akuisisi BCR) USD 140 juta untuk seluruh BCR, untuk 99,33 persen diakuisisi senilai USD 140 juta,” kata Hary Tanoe setelah RUPSLB IATA, Kamis (10/2).

Proses pelunasan akuisisi BCR tidak bisa langsung dilaksanakan dalam waktu dekat. Hary Tanoe menjelaskan pihaknya akan menggelar rights issue terlebih dahulu. Namun, ia belum bisa membeberkan kapan waktu pelaksanaan rights issue itu.

"Betul (mau rights issue untuk pelunasan), jadi transaksi USD 140 juta yang dinilai itu hanya 2 perusahaan ini yaitu BSPC dan PMC, dua IUP yang berproduksi saja itu yang dinilai. Sedangkan tujuh IUP yang lainnya belum dinilai karena belum produksi," ujar Hary Tanoe.

"Jadi (Tujuh IUP) itu sebetulnya sebagai bonus bagi IATA dan segera setelah selesainya RUPS tadi IATA segera rights issue untuk menyelesaikan seluruh rangkaian dari transaksi ini,” tambahnya.

PT Bhakti Coal Resources (BCR) merupakan perusahaan induk dari sembilan perusahaan batu bara dengan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Sembilan perusahaan yang dimaksud di antaranya adalah PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal (BSPC) dan PT Putra Muba Coal (PMC).

Ilustrasi kapal tongkang membawa batu bara di sungai Mahakam. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Kedua perusahaan tersebut yang sudah beroperasi dan aktif menghasilkan batu bara dengan kisaran GAR 2.800-3.600 kkal/kg. Dengan total area seluas 9.813 ha, BSPC memiliki perkiraan total sumber daya 130,7 juta MT, sementara PMC memiliki 76,9 juta MT. Perkiraan total cadangan masing-masing sebesar 83,3 juta MT dan 54,8 juta MT.

Produksi BSPC dan PMC pada tahun 2021 mencapai 2,5 juta metrik ton dan menghasilkan pendapatan sekitar USD 74,8 juta dengan EBITDA USD 33 juta.

Sementara tujuh perusahaan lainnya adalah PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE) dan PT Arthaco Prima Energi (APE) yang keduanya ditargetkan untuk memulai produksi batu bara dalam tahun ini. Ditambah lagi, PT Energi Inti Bara Pratama (EIBP), PT Sriwijaya Energi Persada (SEP), PT Titan Prawira Sriwijaya (TPS), PT Primaraya Energi (PE), dan PT Putra Mandiri Coal (PUMCO) yang sedang disiapkan untuk beroperasi dalam satu atau dua tahun dari sekarang. Tujuh IUP dengan luas 64.191 ha ini memiliki estimasi total sumber daya sebesar lebih dari 1,4 miliar MT.