Kumparan Logo

Ekspor Farmasi hingga Obat Tradisional Naik 10,4%, Industri Makin Pede Ekspansi

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi obat herbal.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat herbal. Foto: Shutterstock

Industri pengolahan non migas, yakni farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional, mulai menunjukkan peningkatan di tiga bulan pertama tahun ini. Para pelaku industri pun kembali percaya diri untuk melakukan ekspor di tahun ini.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) hingga akhir Mei 2022, ekspor industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional mencapai USD 62,32 juta, tumbuh 33,36 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan tumbuh 10,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).

"Volume ekspor farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional di akhir Mei 2022 sebesar 3,24 ribu ton," tulis laporan ekspor-impor hasil pengolahan kuartal I 2022 Kemenperin, Senin (6/6).

Dalam laporan Kemenperin, industri farmasi, obat kimia, dan obat tradisional juga dinilai masih sangat berpotensi untuk dikembangkan, mengingat besarnya pasar domestik di Indonesia, dan juga untuk peningkatan ekspor produk-produk farmasi. Berdasarkan potensi dan kekuatan yang dimiliki, industri farmasi termasuk dalam salah satu industri prioritas yang ditetapkan dalam Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035.

"Salah satu tujuan RIPIN adalah mewujudkan kedalaman dan kekuatan struktur industri, mewujudkan industri yang mandiri, berdaya saing dan maju. Namun, ketergantungan bahan baku obat menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan dalam mendukung upaya kemandirian industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional," tulis laporan tersebut.

Pelaku industri berupaya untuk terus melakukan ekspor produk farmasi, obat kimia, dan obat tradisional. Director of Research & Business Development Dexa Group, Raymond Tjandrawinata, mengatakan bahwa obat herbal Dexa Group menjadi salah satu produk obat tradisional yang menembus pasar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, obat herbal Indonesia sangat diminati oleh pasien di berbagai negara.

"Produk Indonesia sangat disukai. Salah satunya produk biofraksi jahe, digunakan para dokter di Kanada dan Amerika, kemudian Phaleria Macrocarpa atau mahkota dewa juga banyak digunakan," ujar Raymond.

Adapun obat batuk herbal produksi Dexa Medica yang tembus pasar AS bermerek HerbaKOF. Obat batuk tersebut dibuat dari bahan alam, yakni daun legundi, mahkota dewa, daun saga, dan jahe. Di Indonesia, HerbaKOF telah teruji pra-klinis sehingga masuk dalam Obat Herbal Terstandar (OHT) atau salkah satu Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). Berdasarkan catatan Kemenkes RI, saat ini terdapat 86 produk OHT di Indonesia.

"Para saintis kami telah melakukan berbagai macam yang disebut sebagai portofolio program yang akan diluncurkan di kemudian hari, mulai dari OHT hingga ke fitofarmaka. Untuk itu kami menggunakan bahan alam hanya Indonesia, jadi kami telusuri untuk mendapatkan bahan alam dari seluruh kepulauan Indonesia," jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan terus mendorong penggunaan produk dalam negeri. Hal ini untuk memberdayakan industri domestik dan mengurangi ketergantungan impor.

"Kementerian akan terus mengawasi kebutuhan APBN dari K/L, Pemda dan BUMN, sehingga mempersempit celah pembelian produk impor," tutur Luhut dalam Temu Bisnis Tahap III di Jakarta Convention Centre (JCC), Selasa (31/5).

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono mendorong perusahaan farmasi untuk mengembangkan obat berbahan alam saat meluncurkan Formularium Fitofarmaka. Obat dari bahan alam yang teruji klinis bisa masuk dalam kategori fitofarmaka dan khasiatnya setara dengan obat kimia sintetik.

"Kita mendorong industri farmasi dengan keanekaragaman produk hayati Indonesia diharapkan untuk mengembangkan pengobatan fitofarmaka secara mandiri, dengan melakukan pengolahan-pengolahan efektif dan diharapkan bisa masuk ke dalam uji klinis, tidak hanya pra klinis," tuturnya.