Kumparan Logo

Ekspor Minyak Terdampak Perang di Iran, Pertumbuhan Ekonomi Arab Saudi Melambat

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Gedung di Arab Saudi. Foto: Hris/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gedung di Arab Saudi. Foto: Hris/Shutterstock

Pertumbuhan ekonomi Arab Saudi melambat pada kuartal pertama tahun ini akibat tekanan dari konflik Iran yang berdampak langsung pada sektor minyak. Melansir Bloomberg pada Kamis (30/4), berdasarkan data awal pemerintah produk domestik bruto (PDB) hanya tumbuh 2,8 persen secara tahunan hingga Maret, turun tajam dibandingkan 5 persen pada kuartal sebelumnya. Perlambatan terutama terjadi di sektor minyak yang hanya tumbuh 2,3 persen, merosot jauh dari capaian sebelumnya sebesar 10,8 persen. Sementara itu, sektor non-minyak yang menjadi fokus transformasi ekonomi juga ikut melambat menjadi 2,8 persen dari sebelumnya 4,3 persen. Perang yang pecah sejak 28 Februari telah mengganggu stabilitas kawasan Teluk. Iran dilaporkan melakukan serangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi, yang berdampak pada produksi dan ekspor minyak. Penutupan Selat Hormuz semakin memperburuk kondisi. Meski demikian, Arab Saudi masih mampu menekan kerugian dengan mengalihkan pasokan minyak melalui jalur pipa ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Strategi ini juga membuat kerajaan tetap dapat menikmati lonjakan harga minyak dunia yang sempat menyentuh USD 126 per barel. “Buku pedoman yang digunakan otoritas Saudi pada awal krisis memungkinkan mereka untuk menjadi lebih tangguh,” ujar Jihad Azour dari IMF. Meski masih menunjukkan ketahanan, prospek ekonomi Arab Saudi tetap menghadapi tantangan. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara tersebut menjadi 3,1 persen tahun ini. Tekanan tambahan juga datang dari dinamika geopolitik kawasan, termasuk keputusan Uni Emirat Arab keluar dari OPEC mulai 1 Mei 2026. Langkah ini dinilai bisa melemahkan kemampuan organisasi dalam mengendalikan harga minyak global.