Kumparan Logo

Ekspor Tenun Ikat RI Capai Rp 608 Juta pada Semester I 2026, Naik 150 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengrajin kain tenun saat memeraktikan pembuatan tenun di pameran BCA Expoversary 2026 yang diselanggrakan di ICE BSD, Tangerang, Jumat (6/2/2026). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengrajin kain tenun saat memeraktikan pembuatan tenun di pameran BCA Expoversary 2026 yang diselanggrakan di ICE BSD, Tangerang, Jumat (6/2/2026). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Nilai ekspor tenun ikat Indonesia mencapai USD 34 ribu atau Rp 608,43 juta (kurs Rp 17.895 per dolar AS) pada semester I 2026. Angka tersebut meningkat 150 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat di USD 13,6 ribu atau Rp 243,37 juta.

Menteri Perindustrian Sarmuji mengatakan kinerja positif ekspor tenun ikat tersebut menunjukkan adanya potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan dari industri tenun tradisional Indonesia.

“Kinerja ekspor tenun ikat Indonesia pada tahun 2025 telah mencapai USD 28.000. Kinerja positif tersebut berlanjut pada semester I tahun 2026 di mana nilai ekspor mencapai USD 34.000, meningkat 150 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebesar USD 13,6 ribu,” kata Sarmuji dalam acara Pameran Tenun Ulos, di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan Selasa (13/10).

Menurut Sarmuji, potensi tersebut perlu didukung dengan penguatan ekosistem industri tenun tradisional, termasuk melalui peningkatan kapasitas dan produktivitas Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Dia menjelaskan Kemenperin memiliki sejumlah program fasilitasi untuk memperkuat industri tenun tradisional. Fasilitasi tersebut antara lain penguatan sumber daya dan wirausaha IKM, perlindungan produk khas daerah melalui indikasi geografis, dan revitalisasi sentra.

Selain itu, pemerintah mendorong restrukturisasi mesin dan peralatan, jaminan bahan baku, hingga pemanfaatan teknologi dalam proses produksi.

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji di kantor Kementerian Perindustrian, Selasa (13/10/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Sarmuji mengatakan perluasan akses pasar juga menjadi bagian penting dalam pengembangan industri tenun tradisional. Upaya tersebut dilakukan melalui promosi dan fasilitasi pameran, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

“Fasilitas terhadap ekosistem industri tenun tradisional tersebut sejalan dengan besarnya potensi ekspor yang dihasilkan,” ujarnya.

Salah satu produk tenun tradisional yang dikembangkan adalah ulos. Saat ini, ulos telah dikembangkan dalam berbagai bentuk produk, mulai dari busana siap pakai, aksesori fashion, produk dekorasi interior, hingga berbagai produk cenderamata.

Sarmuji mengatakan diversifikasi produk tersebut menunjukkan tenun tradisional dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budaya dan karakter yang menjadi jati dirinya.

Sarmuji mengutip data BPS yang menunjukan ada 43 sentra tenun ulos yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Utara, antara lain Tapanuli Utara, Toba, dan Simalungun.

“Hal ini membuktikan bahwa ulos memiliki basis produksi dan potensi ekonomi yang dapat terus kita kembangkan,” ungkap Sarmuji.

Namun, pengembangan industri tenun masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keberlanjutan keterampilan menenun, regenerasi perajin, minat generasi muda, peningkatan kualitas produk, inovasi desain, juga kemampuan pelaku usaha mengikuti selera dan kebutuhan pasar.

“Karena itu, pelestarian dan pengembangan harus kita lakukan dalam satu napas dan satu gerak bersama,” tutur Sarmuji.