El Nino Bisa Ganggu Kualitas Aset Bank, OJK Wanti-wanti Risiko Kredit Macet

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai fenomena El Nino bisa meningkatkan risiko terhadap kualitas aset perbankan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan fenomena El Nino tahun ini perlu dicermati industri perbankan karena dampak yang menjalar dari sektor riil ke sektor keuangan.
“Dari perspektif sektor keuangan, El Nino yang menjadi salah satu cakupan dalam risiko iklim, dan menjadi salah satu fokus pengaturan dan pengembangan OJK, mengingat dampaknya berpotensi menjalar dari sektor riil ke sektor keuangan dan pada akhirnya memengaruhi kualitas aset, profitabilitas, likuiditas, dan tingkat permodalan bank,” kata Dian dalam keterangan tertulis, Senin (21/9).
Sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi cuaca menjadi kelompok yang paling berpotensi terdampak. Seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, serta industri makanan dan minuman.
Gangguan produksi, kenaikan biaya operasional, dan penurunan pendapatan juga bisa menekan kemampuan debitur dalam memenuhi kewajiban kreditnya. Menurut Dian, pada akhirnya meningkatkan risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).
“Gangguan terhadap produksi dan aktivitas usaha, meningkatnya biaya operasional, serta menurunnya pendapatan dapat memengaruhi kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya (kemampuan membayar kredit),” jelas dia.
Dian mengatakan, bank dengan konsentrasi pembiayaan yang tinggi pada sektor ekonomi atau wilayah yang rentan terhadap dampak El Nino berpotensi menghadapi risiko penurunan kualitas aset lebih besar dibandingkan bank dengan portofolio pembiayaan yang lebih terdiversifikasi.
“Risiko tersebut termasuk dalam kategori physical climate risk yaitu risiko yang timbul akibat dampak langsung perubahan pola dan kondisi iklim terhadap aktivitas ekonomi, aset, maupun kinerja keuangan debitur yang perlu dimitigasi oleh industri perbankan,” ungkap Dian.
Untuk memperkuat ketahanan industri, Dian mendorong bank mulai mengintegrasikan dampak risiko iklim ke dalam strategi bisnis dan manajemen risiko.
Selain itu, perbankan didorong mengalokasikan modal dan pembiayaan ke sektor ramah lingkungan serta mengembangkan produk keuangan berbasis keberlanjutan.
Untuk industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR), El Nino juga dinilai perlu menjadi perhatian karena sebagian BPR memiliki eksposur pembiayaan yang dekat dengan aktivitas ekonomi masyarakat di daerah.
“Sebagian BPR memiliki eksposur pembiayaan yang cukup dekat dengan sektor ekonomi masyarakat di daerah, termasuk sektor pertanian, perkebunan, perdagangan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah yangberpotensi terdampak oleh gangguan produksi maupun penurunan aktivitas ekonomi masyarakat,” tuturnya.
