Kumparan Logo

El Nino dan Harga Minyak Tinggi Picu Tekanan Inflasi di Asia

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi El Nino. Foto: Neenawat Khenyothaa/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi El Nino. Foto: Neenawat Khenyothaa/Shutterstock

Asia menghadapi ancaman inflasi yang semakin besar seiring lonjakan harga minyak dunia dan potensi cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino. Kondisi ini diperkirakan bakal meningkatkan biaya pangan, energi, hingga transportasi di banyak negara kawasan.

Data terbaru menunjukkan inflasi melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir di sejumlah negara Asia. Filipina dan Pakistan menjadi negara dengan kenaikan paling tajam, dengan inflasi masing-masing menembus di atas 7 persen dan 11 persen.

Tekanan inflasi dipicu oleh kenaikan biaya logistik, transportasi, dan utilitas di tengah memanasnya konflik geopolitik yang turut mengganggu pasar energi global. Di sisi lain, El Nino diperkirakan membawa cuaca lebih panas dan kondisi lebih kering ke sejumlah wilayah Asia mulai akhir tahun ini.

Fenomena ini dikhawatirkan bakal mengganggu produksi pertanian dan mendorong harga pangan semakin tinggi. Di negara berkembang Asia, porsi makanan dalam pengeluaran rumah tangga mencapai sekitar 40 persen hingga 50 persen, sehingga lonjakan harga pangan akan sangat memukul daya beli masyarakat.

Ekonom Oxford Economics, Adam Ahmad Samdin, mengatakan inflasi pangan di Asia diperkirakan meningkat pada 2026 akibat kombinasi risiko geopolitik, gangguan pasar pupuk, dan ketidakpastian iklim.

“Inflasi pangan di Asia diperkirakan akan meningkat pada 2026. Kombinasi risiko geopolitik, gangguan pasar pupuk, dan ketidakpastian iklim menunjukkan bahwa risiko inflasi pangan secara keseluruhan kemungkinan tetap tinggi dalam beberapa kuartal mendatang,” jelas Samdin, seperti dikutip dari Bloomberg pada Jumat (8/5).

Selain itu, kenaikan harga pupuk akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan baru akan berdampak penuh terhadap harga pangan pada paruh kedua tahun ini. Para ekonom menilai tekanan inflasi bisa semakin besar apabila kondisi cuaca memburuk sesuai proyeksi.

“Jika kondisi cuaca memburuk sesuai proyeksi, maka paruh kedua 2026 dapat menghadirkan tekanan inflasi yang lebih besar,” tulis ekonom Bank of America, Rahul Bajoria dalam catatan mengenai Asia Tenggara.

Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan inflasi global dapat naik hingga 4 poin persentase pada tahun depan. Sementara Bank Pembangunan Asia (ADB) menaikkan proyeksi inflasi kawasan Asia tahun ini menjadi 5,2 persen dari sebelumnya 3,6 persen.

Filipina jadi salah satu negara paling rentan karena ketergantungannya terhadap impor pangan dan bahan bakar. Inflasi di Filipina tercatat jauh di atas target bank sentral, sementara lemahnya konsumsi rumah tangga mulai menekan pertumbuhan ekonomi.

video story embed

Indonesia juga dinilai menghadapi risiko perlambatan ekonomi apabila musim kering El Nino berlangsung lebih kuat. Selain mengganggu produksi pertanian, cuaca panas juga bisa meningkatkan konsumsi listrik dan bahan bakar.

Di India, musim monsun yang lebih lemah berpotensi menurunkan hasil panen dan mendorong harga pangan naik. Ekonom memperkirakan inflasi di India akan melampaui 5 persen pada tahun fiskal mendatang.

Negara-negara maju di Asia seperti Jepang dan Korea Selatan juga mulai merasakan dampak kenaikan harga pangan dan energi. Jepang bahkan mencatat harga beras masih naik 6,8 persen pada Maret 2026, yang membuat inflasi dinilai semakin sulit turun dalam waktu dekat.

Sementara di Korea Selatan, yang mempertahankan suku bunga acuan di level 2,5 persen sejak Juli tahun lalu, bank sentral kemungkinan sudah terlambat mengambil langkah dalam kebijakan moneternya seiring meningkatnya risiko inflasi.