Kumparan Logo

Elektrifikasi Tambang Jadi Strategi SUN Energy Tekan Biaya dan Mandiri Energi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PLTS dengan Battery Energy Storage System (BESS) sebagai strategi SUN Energy dalam menekan biaya operasional tambang dan meningkatkan kemandirian energi. Foto: Dok. SUN Energy
zoom-in-whitePerbesar
PLTS dengan Battery Energy Storage System (BESS) sebagai strategi SUN Energy dalam menekan biaya operasional tambang dan meningkatkan kemandirian energi. Foto: Dok. SUN Energy

Industri pertambangan menjadi salah satu sektor dengan kebutuhan energi terbesar sekaligus memiliki operasi yang sangat bergantung pada keandalan pasokan energi. Di tengah volatilitas harga bahan bakar, lokasi operasi yang terpencil, serta tekanan untuk menjaga produktivitas, pengelolaan energi semakin menjadi bagian penting dari strategi bisnis perusahaan tambang.

Oleh karena itu, transformasi menuju operasi tambang yang lebih efisien tidak cukup dilihat hanya sebagai agenda pengurangan emisi. Integrasi energi terbarukan, sistem penyimpanan energi, elektrifikasi armada, dan teknologi digital dapat menjadi strategi untuk menekan biaya operasional, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, serta memperkuat kemandirian energi di area tambang.

Indonesia menargetkan Net Zero Emissions (NZE) pada 2060 atau lebih cepat. Bagi industri pertambangan, transisi tersebut sekaligus membuka peluang untuk membangun sistem energi yang lebih efisien, terprediksi, dan sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan.

Pembangkit listrik berbasis energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), Battery Energy Storage System (BESS), elektrifikasi kendaraan dan alat berat, serta sistem manajemen energi berbasis data dapat dikembangkan sebagai satu ekosistem untuk mendukung operasional tambang secara lebih terintegrasi.

Sebagai penyedia solusi keberlanjutan terintegrasi untuk sektor industri, SUN melihat peluang besar dalam penerapan PLTS di sektor pertambangan serta elektrifikasi transportasi dan alat berat untuk mendukung target NZE 2060. Penerapan solusi tersebut juga dapat membantu meningkatkan keandalan pasokan energi di wilayah tambang terpencil yang kerap menghadapi keterbatasan akses jaringan listrik.

Energi Menjadi Faktor Strategis dalam Struktur Biaya Tambang

Pada sektor pertambangan yang memiliki intensitas energi tinggi, volatilitas harga bahan bakar dan besarnya kebutuhan energi dapat berdampak langsung terhadap struktur biaya produksi.

Biaya energi dapat mencapai sekitar 15%–40% dari total biaya operasional tambang, bergantung pada jenis tambang, lokasi, dan konfigurasi pasokan energinya. Artinya, setiap peningkatan efisiensi pada sisi energi berpotensi memberikan pengaruh signifikan terhadap keekonomian operasi secara keseluruhan.

Tantangannya semakin kompleks pada tambang yang berada di wilayah terpencil dan belum memiliki akses jaringan listrik yang memadai. Operasi semacam ini sering kali bergantung pada pembangkit berbasis diesel, sehingga perusahaan tidak hanya menghadapi biaya bahan bakar, tetapi juga biaya transportasi dan logistik bahan bakar menuju lokasi operasi.

Integrasi energi terbarukan seperti tenaga surya dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menciptakan sistem pasokan energi yang lebih terdiversifikasi.

Penerapan PLTS dan sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS) dapat membantu industri tambang mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbasis diesel dan menekan biaya operasional. Pada level biaya pembangkitan, IRENA mencatat rata-rata global LCOE (Levelized Cost of Electricity) untuk PLTS skala utilitas pada 2024 mencapai sekitar USD 0,043/kWh.

Sementara itu, proyeksi NREL (National Renewable Energy Laboratory) menunjukkan biaya BESS skala utilitas akan terus menurun, sehingga memperkuat potensinya untuk mendukung pengaturan beban, stabilisasi pasokan, dan optimalisasi pemakaian energi.

Aktivitas loading dan haulage merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam kegiatan tambang terbuka. Studi dalam Journal of Cleaner Production pada 2025 menunjukkan bahwa penggunaan truk listrik pada operasi tambang terbuka berpotensi menurunkan biaya operasional sekitar 40%–62% dibandingkan dengan armada diesel dalam skenario yang dimodelkan. Karena itu, elektrifikasi alat berat dan transportasi tambang dapat menjadi salah satu area strategis untuk mengurangi konsumsi energi dan biaya perawatan.

Energi hingga Armada Tambang

Peluang efisiensi berikutnya berada pada kendaraan operasional dan alat berat. Aktivitas loading dan haulage merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam kegiatan tambang terbuka. Studi dalam Journal of Cleaner Production pada 2025 menunjukkan bahwa penggunaan truk listrik pada operasi tambang terbuka berpotensi menurunkan biaya operasional sekitar 40%–62% dibandingkan dengan armada diesel dalam skenario yang dimodelkan.

Potensi tersebut membuat elektrifikasi kendaraan semakin relevan untuk dikaji berdasarkan karakteristik operasi masing-masing tambang. Namun, transformasi armada tidak berarti seluruh kendaraan harus dikonversi sekaligus.

Implementasi dapat dimulai dari kendaraan dengan pola operasi yang paling mudah diprediksi, seperti kendaraan ringan, shuttle, atau support fleet. Setelah performa, kebutuhan charging, pola penggunaan energi, dan keekonomiannya tervalidasi, elektrifikasi dapat diperluas secara bertahap ke jenis kendaraan lainnya. Pendekatan bertahap ini memungkinkan perusahaan mempertahankan produktivitas sekaligus mengelola risiko perubahan teknologi dan operasional.

Integrasi Energi, Armada, dan Data

Elektrifikasi tambang pada akhirnya bukan hanya persoalan mengganti sumber energi atau kendaraan. Ketika penggunaan PLTS, BESS, charging infrastructure, dan kendaraan listrik meningkat, perusahaan membutuhkan sistem yang mampu mengelola seluruh aset tersebut secara terintegrasi.

Sistem pemantauan digital dapat memberikan visibilitas terhadap pembangkitan dan konsumsi energi, pola pengisian kendaraan, utilisasi armada, kondisi baterai, kebutuhan perawatan, hingga penurunan konsumsi bahan bakar dan emisi.

Data tersebut memungkinkan pengelola tambang mengambil keputusan operasional berdasarkan kondisi aktual, bukan hanya laporan berkala. Dengan demikian, elektrifikasi dapat berkembang dari implementasi teknologi menjadi sistem operasi yang membantu meningkatkan efisiensi, keandalan aset, dan produktivitas.

Salah satu tantangan terbesar dalam transformasi energi dan elektrifikasi adalah kebutuhan investasi awal. Tidak semua perusahaan ingin mengalokasikan modal untuk memiliki PLTS, BESS, charging infrastructure, maupun kendaraan listrik, terutama ketika capital expenditure harus diprioritaskan untuk kegiatan inti pertambangan.

Melalui konsep Sustainability-as-a-Service, SUN Energy menghadirkan solusi elektrifikasi terintegrasi bagi sektor pertambangan. Pendekatan ini mencerminkan arah baru menuju praktik pertambangan yang lebih hijau, efisien, dan sejalan dengan agenda dekarbonisasi industri nasional.

Teknologi PLTS dan BESS dapat mendukung pasokan listrik yang lebih stabil, termasuk di area pertambangan terpencil yang sulit dijangkau oleh jaringan listrik nasional. Sementara itu, elektrifikasi transportasi operasional berpotensi menekan konsumsi bahan bakar dan biaya perawatan. Sistem pemantauan digital juga memungkinkan perusahaan menganalisis tren konsumsi energi dan melakukan tindakan korektif secara real-time untuk meningkatkan efisiensi operasional serta keandalan aset.

Investasi untuk beralih dari energi fosil menuju energi terbarukan mungkin memerlukan biaya awal yang cukup besar. Namun, potensi energi surya yang tersedia di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk membangun pasokan energi yang lebih mandiri dalam jangka panjang. Integrasi PLTS, BESS, serta elektrifikasi alat berat dan transportasi dapat mengurangi paparan perusahaan terhadap volatilitas harga bahan bakar, meningkatkan efisiensi produksi, serta mendukung pencapaian target NZE pada 2060 atau lebih cepat.

Bagi industri pertambangan, elektrifikasi dapat menjadi strategi untuk menurunkan biaya, memperkuat kemandirian energi, menjaga produktivitas, dan meningkatkan daya saing operasi dalam jangka panjang.