Kumparan Logo

Emiten Inaco (JELI) dan JEC (JECX) Resmi IPO di BEI, Oversubscribed 273,37 Kali

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pencatatan perdana saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (7/7/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pencatatan perdana saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (7/7/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan

Emiten PT Niramas Utama Tbk (JELI) melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Initial Public Offering (IPO) hari ini, Selasa (7/7). Perusahaan mencatat oversubscription hingga 273,37 kali pada porsi pooling, dengan partisipasi sebanyak 630.491 pemesan.

Saham JELI langsung melesat menyentuh auto rejection atas (ARA) pada hari pertama perdagangannya.

JELI merupakan perusahaan kedua yang melantai di BEI pada 2026, bergerak dalam bidang produsen makanan dan minuman (Inaco). Saat pencatatan perdananya, saham JELI melesat 25 persen atau sebesar 225 poin dan bertengger pada level Rp 1.125 per saham.

JELI menawarkan sebanyak 266.000.000 saham baru atau setara dengan 21,01 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Harga penawaran ditetapkan sebesar Rp 900 per saham, yang merupakan batas bawah dari kisaran harga penawaran awal sebesar Rp 900-Rp 1.120 per saham sebagaimana tercantum dalam prospektus. Lewat IPO ini, Perseroan berhasil menghimpun dana sebesar Rp 239,4 miliar sebelum dikurangi biaya emisi.

Direktur PT Niramas Utama Tbk, Yusuf Hamdani, mengatakan RI adalah pasar minuman yang sangat potensial dan terus tumbuh. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pengeluaran penduduk Indonesia perkapita untuk makanan dan minuman mencapai sekitar 50 persen dari PDB.

“Potensi industri makanan dan minuman juga tercermin dari pertumbuhan yang jauh di atas pertumbuhan ekonomi, yaitu mencapai 7,04% dari kuartal I tahun 2026. Pertama, perusahaan kami didirikan pada tahun 1990 dengan skala usaha yang sangat kecil dan menghasilkan produk nata de coco dengan menggunakan brand Inaco,” ucap Yusuf di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (7/7).

56,70 persen dana hasil IPO akan digunakan sebagai modal kepada PT NPS selaku perusahaan anak untuk belanja modal, guna meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan produk jelly dalam mendukung permintaan domestik dan ekspor kategori yang menjadi katalis pertumbuhan baru bagi perseroan pasca IPO.

Sekitar 10,04 persen akan digunakan untuk belanja modal, berupa pembelian mesin dan peralatan produksi, mencakup peningkatan kapasitas gudang serta efisiensi logistik. Sebesar 10,90 persen diarahkan untuk pembayaran sebagian utang jangka pendek. Sisanya sekitar 22,36 persen digunakan untuk modal kerja guna mendukung kelancaran operasional dan pertumbuhan usaha.

PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX)

Pencatatan perdana saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (7/7/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan

Selanjutnya, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) yang juga melantai di BEI mencatat oversubscribed sebesar 62,5 kali pada porsi penjatahan terpusat, dengan jumlah pemesan mencapai 555.699 investor.

Dalam IPO, Perseroan menawarkan sebanyak 487.983.500 saham biasa atau sebesar 15,00 persen dari modal ditempatkan dan disetor Perseroan setelah IPO, dengan harga penawaran sebesar Rp 1.250 per saham.

Jumlah saham yang ditawarkan tersebut terdiri dari 325.322.300 saham baru atau sebesar 10,00 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO, serta 162.661.200 saham divestasi milik DR. Dr. Waldensius Girsang, SpM(K) atau sebesar 5,00 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.

JECX perusahaan ketiga yang melantai di BEI pada 2026, bergerak dalam bidang aktivitas rumah sakit swasta dan aktivitas klinik swasta melalui jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics. Saat pencatatan perdananya, saham JECX melesat 24,8 persen atau sebesar 310 poin dan bertengger pada level Rp 1.560 per saham.

Melalui IPO ini, JECX menghimpun dana sebesar Rp 609.979.375.000, yang terdiri dari Rp 406.652.875.000 dari penerbitan saham baru Perseroan dan Rp 203.326.500.000 dari penjualan saham divestasi. Dengan harga penawaran itu, kapitalisasi pasar Perseroan pada saat pencatatan saham perdana mencapai sekitar Rp 4,07 triliun.

Presiden Direktur JECX, Johan A. M. M. Hutauruk mengatakan lewat IPO ini, Perseroan berharap bisa memperkuat struktur permodalan dan mendukung pertumbuhan JEC.

“Tetap mengedepankan semangat Care with Experience, yaitu pelayanan yang berorientasi pada pasien dan didukung oleh pengalaman serta keahlian JEC di bidang kesehatan mata,” kata Johan.

Adapun, dana yang diperoleh Perseroan dari hasil penerbitan saham baru bakal digunakan untuk memperkuat struktur keuangan melalui pelunasan sebagian pinjaman perbankan, mendukung pengembangan entitas anak, serta memenuhi kebutuhan modal kerja.

Salah satu fokus utama investasi Perseroan adalah pembangunan JEC Bali Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Bali sebagai medical tourism, yang dipersiapkan sebagai klinik mata berstandar global dengan konsep Blue Hospital.