Kumparan Logo

Eni-Repsol Cari Investor Baru untuk Garap Ladang Gas Raksasa Venezuela

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perusahaan migas ENI SpA dari Italia. Foto: Instagram/@eni
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perusahaan migas ENI SpA dari Italia. Foto: Instagram/@eni

Perusahaan migas, Eni SpA dan Repsol SA, sedang mencari investor eksternal untuk menggarap proyek ladang gas alam raksasa Perla di lepas pantai Venezuela. Untuk itu mereka membutuhkan tambahan modal.

Dikutip dari Bloomberg, Minggu (4/10), kedua perusahaan tersebut kini sedang mempertimbangkan menjual sebagian kepemilikannya di ladang gas alam Perla, Venezuela, untuk mendapatkan tambahan modal pengembangan proyek tersebut.

Sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan, dana hasil transaksi tersebut memang akan digunakan untuk membantu pengembangan ladang gas Perla. Kedua perusahaan masing-masing memiliki 50 persen saham dalam proyek lepas pantai tersebut.

Meski demikian, baik Eni maupun Repsol saat ini masih menolak untuk memberi komentar terkait rencana itu. Adapun Perla merupakan salah satu ladang gas terbesar yang dimiliki Venezuela. Negara tersebut diketahui memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat besar, tetapi hingga kini belum mengekspor gas alamnya.

Pada bulan lalu, Venezuela dan Amerika Serikat (AS) sebenarnya telah mengumumkan sejumlah kerja sama dengan perusahaan energi besar termasuk Chevron Corp, GE Vernova Inc, dan Eni. Kerja sama tersebut ditujukan untuk meningkatkan produksi minyak mentah Venezuela.

Ilustrasi perusahaan migas ENI SpA dari Italia. Foto: Instagram/@eni

Pada saat yang sama, Eni dan Repsol telah menandatangani kesepakatan dengan pemerintah Venezuela untuk mulai mengekspor gas dari negara tersebut pada akhir 2031. Kesepakatan itu bertujuan menghidupkan kembali rencana yang sempat lama terhenti untuk meningkatkan produksi dari ladang gas Perla.

Adapun Eni dan Repsol menargetkan produksi gas dari ladang gas Perla tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat. Nantinya, gas yang dihasilkan akan diekspor dalam bentuk liquefied natural gas (LNG) melalui terminal terapung.

Sebelumnya pada Februari lalu, AS memang sudah melonggarkan sanksi di sektor energi Venezuela dengan mengeluarkan dua lisensi umum yang mengizinkan perusahaan energi global dapat mengoperasikan proyek minyak dan gas di sana, serta bagi perusahaan lain untuk menegosiasikan kontrak untuk membawa masuk investasi baru.

Langkah itu merupakan langkah paling signifikan sejak pasukan AS menangkap dan menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Kantor Pengawasan Aset Asing Kementerian Keuangan (OFAC) mengeluarkan lisensi umum yang mengizinkan Chevron, BP, Eni, Shell, dan Repsol mengoperasikan operasi minyak dan gas di Venezuela. Perusahaan-perusahaan itu masih memiliki kantor dan saham dalam proyek-proyek di Venezuela, dan merupakan salah satu mitra utama perusahaan milik negara PDVSA.

Lewat lisensi itu, operasi perusahaan minyak besar mengharuskan membayar royalti dan pajak Venezuela lewat Dana Deposito Pemerintah Asing yang dikelola AS. Lisensi lainnya mengizinkan perusahaan di seluruh dunia membuat kontrak dengan PDVSA untuk investasi baru di migas Venezuela. Kontrak tersebut bergantung pada izin terpisah dari OFAC).

Namun, perusahaan tersebut tidak diizinkan melakukan transaksi dengan perusahaan Rusia, Iran, China, atau entitas yang dimiliki atau dikendalikan oleh usaha patungan (joint venture) dengan orang-orang di negara tersebut.

instagram embed