Kumparan Logo

Erick Thohir: BUMN Bukan Badan Usaha Milik Nenek!

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri BUMN Erick Thohir dalam peluncuran Program Mentorship BUMN Muda, Rabu (25/8). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Menteri BUMN Erick Thohir dalam peluncuran Program Mentorship BUMN Muda, Rabu (25/8). Foto: Dok. Istimewa

Menteri BUMN Erick Thohir mengakui perusahaan pelat merah menjadi kekuatan besar untuk ekonomi Indonesia. Meski begitu, Erick meminta perusahaan milik negara tersebut harus ikut mendukung pertumbuhan bisnis masyarakat.

“BUMN juga memastikan juga harus hadir mensejahterakan masyarakatnya. Karena Badan Usaha Milik Negara (BUMN), bukan Badan Usaha Milik Nenek ya jadi itu tugasnya,” kata Erick saat acara yang digelar PPI, Minggu (30/1).

Untuk itu, Erick meminta dukungan semua pihak agar kinerja BUMN semakin membaik. Apalagi, kata Erick, perusahaan pelat merah kali ini sudah berbeda dibanding era sebelumya.

“Dengan segala kerendahan hati tolong kami ini didukung dan saya pastikan BUMN hari ini berbeda dengan BUMN dulu. Karena tadi filosofi kita ingin merajut, kita tidak mau menjadi menara gading,” ujar Erick.

“Makanya kalau BUMN-nya jadi menara gading enak dilihat, tapi enggak enak dipegang, keras. Jadi BUMN yang sekarang ini adalah kapal induk besar yang menyatukan semua yang ada di sini untuk membangun keseimbangan ekonomi,” tambahnya.

Erick menegaskan keseimbangan ekonomi tidak akan terlihat kalau yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Ia mengatakan dalam membangun ekosistem semua pihak terkait tidak boleh mengedepankan ego atau kepentingannya saja.

Erick mencontohkan ekosistem dalam bisnis kopi. Ia menjelaskan harus ada kerja sama dengan semua yang bergerak di bisnis tersebut mulai pemerintah, duta besar, swasta, hingga melibatkan partisipasi para petani kopi.

Erick merasa dengan ekosistem yang baik membuat bisnis juga semakin maksimal. Ia merasa kalau ada problem seperti politik bakal membuat bisnis menjadi terkendala. Untuk itu, ia menegaskan ekosistem yang baik harus direalisasikan.

“Nah inilah ekosistem, tapi kembali hatinya ditaruh di tengah mesti sama-sama jujur, sama-sama terbuka baru bisa jalan,” tutur Erick.