Kumparan Logo

Erick Thohir Minta BUMN Antisipasi Skenario The New Normal, Apa Maksudnya?

kumparanBISNISverified-green

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri BUMN Erick Thohir melakukan pemeriksaan suhu tubuh di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang , Banten, Rabu (11/3). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
zoom-in-whitePerbesar
Menteri BUMN Erick Thohir melakukan pemeriksaan suhu tubuh di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang , Banten, Rabu (11/3). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Menteri BUMN Erick Thohir meminta ratusan perusahaan negara menyiapkan protokol untuk mengantisipasi skenario The New Normal. Skenario ini tengah dikaji pemerintah untuk menghadapi pandemi COVID-19.

Dalam suratnya per 15 Mei 2020 kepada para Direktur Utama BUMN, mantan Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin ini menyebutkan ada beberapa bentuk antisipasi yang harus disiapkan.

Salah satunya membentuk task force atau satuan tugas dan menyusun timeline pelaksanaan skenario The New Normal yang berpedoman pada kebijakan Kementerian BUMN, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah.

Isu skenario The New Normal ini juga tengah ramah diperbincangkan warga net di Twitter. Kebanyakan dari mereka mempertanyakan apa yang dimaksud dengan skenario tersebut dan apa bedanya dengan Herd Immunity yang juga tak kenal ramainya diperdebatkan.

Apa sebenarnya yang dimaksud Skenario The New Normal?

Deputi SDM, Teknologi, dan Informasi Kementerian BUMN, Alex Denni menjelaskan, sebelum mengantisipasi skenario The New Normal dari pemerintah, perusahaan lebih dulu mengidentifikasi variabel-variabel yang paling tidak pasti dan paling berpengaruh dalam menghadapi pandemi ini.

Ilustrasi Gedung Kementerian BUMN. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Variabel yang paling tidak pasti adalah penemuan vaksin, sedangkan variabel yang paling berpengaruh mengacu pada perilaku masyarakat Indonesia saat menghadapi situasi saat ini.

Kata Alex, dalam melihat dua variabel itu, muncul 4 skenario. Pertama, skenario Death Zone yang menggambarkan kondisi virus corona masih ada dan menyebar dengan cepat. Sedangkan vaksinnya belum ditemukan.

Situasi seperti itu akan membuat sistem perawatan media tidak sanggup menanggulangi pasien yang jumlahnya melebihi kapasitas. Sementara, perilaku masyarakat sangat abai terhadap protokol keselamatan dan kesehatan.

"Akibatnya apa? Orang doing business as usual, kontak fisik, salaman cipika-cipiki, dan lain-lain. Tentu ini sangat rentan. Biasanya ikutannya jumlah meninggal banyak, bisnis banyak yang bangkrut, PHK massal terjadi di mana-mana, pengangguran meningkat secara signifikan, lingkungan tidak aman," kata Alex dalam konferensi pers secara daring, Senin (18/5).

Skenario kedua adalah The New Normal. Alex menjelaskan, dalam skenario ini, kondisinya virus corona masih ada dan vaksin belum ditemukan. Namun, perilaku disiplin dari masyarakat terhadap protokol keselamatan dan kesehatan membuat penyebarannya menjadi melambat. Sehingga, sistem perawatan rumah sakit bisa menangani jumlah pasien yang ada dengan baik.

Dampaknya, kata dia, jumlah orang yang meninggal sedikit dan bisnis akan mencari cara-cara baru, produk baru, solusi baru yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam menjalani kehidupan dalam dunia dengan peradaban dan budaya yang baru.

Warga beraktivitas di depan pintu masuk Pasar Tanah Abang yang tutup di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO / Aprillio Akbar

Dia menegaskan, skenario The New Normal bukanlah mengajak masyarakat kembali ke kondisi atau aktivitas seperti virus corona belum ada. Tapi ada kebiasaan-kebiasaan baru yang muncul dari masyarakat dalam berperang melawan virus ini.

"Dalam skenario dua ini, masyarakat terbiasa hal-hal baru seperti new normal 9-11 (ledakan bom di Amerika Serikat). Dulu kalau ke bandara enggak pake buka gesper, sepatu. Setelah 9-11 itu menjadi new normal yang ke bandara harus lewat x-ray , harus buka tali pinggang, sepatu dan lain-lain," papar Alex.

Skenario ketiga adalah Donkeyman, yaitu kondisi vaksin sudah ditemukan dan perawatan media bisa menanggulangi atau mengobati pasien COVID-19. Namun, perilaku masyarakat kembali abai terhadap aspek keselamatan dan kesehatan. Alhasil, rumah sakit tetap ramai meski fatalitas akibat virus COVID-19 tidak tinggi.

Sedangkan skenario keempat adalah longer life hope. Skenario ini yang sebenarnya paling diharapkan sebab kondisi vaksin sudah ditemukan dan sistem perawatan medis bisa menanggulangi atau mengobati pasien COVID-19. Masyarakat terbiasa melakukan kerja secara virtual dan remote, tidak lagi konvensional. Lalu, transformasi digital terjadi secara masif dan produktivitas meningkat secara signifikan.

Kata Alex, kondisi Indonesia saat ini berada di antara skenario Death Zone dan skenario The New Normal. Karena pemerintah tengah mengkaji skenario The New Normal, makanya BUMN diminta untuk menyesuaikan diri. Harapannya, ratusan perusahaan negara ini bisa menjadi acuan yang menggerakkan masyarakat untuk menuju situasi The New Normal.

"Dalam konteks inilah BUMN harusnya menjadi influencer dan role model segera menggerakkan masyarakat menuju new normal. Kenapa begitu, karena BUMN menjadi lokomotif lebih 1/3 ekonomi kita. Kalau BUMN bergerak lokomotif bergerak mendorong ke new normal, maka mudah-mudahan segera masuk new normal dengan alamiah," tutur Alex.

ruk yang akan menyeberang ke Sumatera terparkir di Dermaga 2 menunggu masuk kapal ferry di Pelabuhan Merak, Banten, Minggu (17/5). Foto: ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Salah satu yang tengah digodok dalam antisipasi BUMN menghadapi skenario The New Normal adalah rencana pekerja BUMN di bawah usia 45 tahun masuk kantor. Akan tetapi, arahan ini harus menunggu sinyal dari pemerintah yaitu Ketua Gugus Tugas dan Kementerian Kesehatan.

Kata Alex, tak hanya berpedoman pada instruksi pemerintah pusat, aturan masuknya pegawai BUMN dalam mengantisipasi skenario The New Normal juga mempertimbangkan kebijakan pemerintah daerah. Jadi, ketika di suatu daerah masih belum melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), maka BUMN di daerah wajib mengikuti anjuran pemerintah daerah.

Karena itu, Kementerian BUMN mengumpulkan para pejabat perusahaan negara dalam sebuah grup diskusi untuk membahas protokol yang akan disiapkan yang disesuaikan dengan kondisi BUMN berada. Tujuannya, ketika pemerintah sudah memberikan lampu merah untuk masuk kerja, pegawai BUMN tak akan kaget.

"Kapan masuknya? Kita tunggu dari pemerintah yaitu Gugus Tugas dan Kemenkes yang akan memberikan sinyal bahwa kita sudah bisa masuk atau belum. Jadi kita bukannya slonong masuk tapi menyiapkan protokol ke karyawan, customer, dan stakeholder jika nanti masuk akan seperti ini lho, jangan berharap ada meeting ketemu fisik, makan-makan di restoran dan lainnya," ujarnya.