kumparan
4 Desember 2019 14:56

Erick Thohir Persilakan Swasta Jual Avtur, Tapi Jangan Impor

Menteri BUMN Erick Thohir  jalan kaki menuju kantornya usai bertandang ke Balaikota DKI Jakarta
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Pemerintah saat ini tengah mengevaluasi harga avtur yang dinilai masih tinggi sehingga membuat harga tiket pesawat mahal.
ADVERTISEMENT
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menyatakan tak ingin penjualan avtur dimonopoli PT Pertamina (Persero).
Menanggapi hal tersebut, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku sangat terbuka dengan persaingan usaha jika nantinya ada penjual avtur selain Pertamina.
"Kalau swasta yang produksi avtur welcome saja. Yang tidak boleh cuma minta lisensi impor akhirnya nanti. Kami-kami yang di BUMN atau di kementerian banyak ditugaskan menekan impor migas tapi di pihak lainnya malah impor terus, akhirnya kami yang disalahkan lagi," katanya saat ditemui di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (4/12).
Erick menekankan, dengan keberadaan swasta untuk memproduksi avtur, maka ke depan akan bisa menekan impor minyak dan gas (migas). Sementara itu, soal perhitungan harga jual avtur, ia menyerahkan kepada direksi Pertamina.
ADVERTISEMENT
"Saya tentu nanti direksi Pertamina, maskapai yang lebih tahu ya. Tapi ini catatannya untuk produksi ya, kalau sekedar (swasta) impor (avtur) saya enggak setuju," sambungnya.
Selain itu, Erick Thohir meminta Pertamina untuk mengembangkan pengolahan B20 (biodiesel) menjadi avtur. Ia pun mengingatkan supaya proyek B20 tidak hanya sekadar proyek jangka pendek.
"Artinya harus diproduksi dan diolah dalam negeri. Kan sekarang dengan adanya B30 macam-macam itu sudah bisa menjadi avtur juga. Tinggal benar-benar mau enggak melakukannya. Karena jangan hanya shortcut sekadar hanya mencari keuntungan tapi akhirnya kembali merugikan," katanya.
"Secara keseluruhan konsep yang sedang dibangun oleh Bapak Presiden karena kan kita mau tekan impor migas itu," tutupnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan