Erick Thohir Rampungkan Merger Pelindo, Ini 4 Tantangan yang Dihadapi ke Depan

4 Oktober 2021 9:09
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Sebuah kapal kargo bersandar di Pelabuhan Peti Kemas Makassar yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV (Persero). Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah kapal kargo bersandar di Pelabuhan Peti Kemas Makassar yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV (Persero). Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda
ADVERTISEMENT
Menteri BUMN Erick Thohir telah merampungkan merger Pelindo, dari semula 4 BUMN berbeda selaku pengelola sejumlah pelabuhan di Indonesia. Hal ini mendapat apresiasi, namun pada saat yang sama BUMN baru hasil merger menghadapi tantangan yang baru pula.
ADVERTISEMENT
Apresiasi atas merger Pelindo disampaikan lembaga kajian bidang logistik dan supply chain, yakni Supply Chain Indonesia (SCI). Tapi pada sisi lain, Chairman SCI, Setijadi mengungkapkan empat catatan yang menjadi menjadi tantangan usai merger Pelindo tersebut.
"Pertama, peningkatan dan standardisasi pelayanan di semua pelabuhan Pelindo yang didukung standardisasi proses, SDM, dan teknologi (fasilitas) dengan sistem informasi yang terintegrasi, baik antarpelabuhan maupun antara pelabuhan dan pengguna," kata Setijadi dalam keterangan resmi, dikutip Senin (4/10).
Tantangan yang kedua, yakni adalah penataan hub dan spoke kepelabuhanan Indonesia, dengan tantangan utama mengurangi pelabuhan pintu ekspor-impor.
Menurutnya, pembatasan menjadi hanya 2-5 international hub port akan meningkatkan volume barang secara signifikan di beberapa pelabuhan hub. Hal ini yang berpotensi menarik direct call untuk mother vessel (kapal peti kemas raksasa).
ADVERTISEMENT
"Ini menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing pelabuhan Indonesia secara global, termasuk mengalihkan pengiriman yang selama ini melalui Singapura," ujarnya.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Menteri BUMN Erick Thohir meninjau Melasti yang dibangun Pelindo III di Tanjung Benoa, Bali, Jumat (14/2). Foto: Muhammad Darisman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri BUMN Erick Thohir meninjau Melasti yang dibangun Pelindo III di Tanjung Benoa, Bali, Jumat (14/2). Foto: Muhammad Darisman/kumparan
Upaya tersebut, lanjut Setijadi, harus dibarengi dengan penataan jaringan pelabuhan pengumpan (spoke-nya). Hal ini bukan hal mudah, namun perlu menjadi prioritas dalam jangka panjang.
Ketiga, pengembangan sistem transportasi multimoda. Pelindo dapat berperan mendorong integrasi pengiriman barang secara end-to-end dengan melibatkan perusahaan pelayaran dan operator transportasi jalan dan rel untuk meningkatkan efisiensi secara keseluruhan.
Analisis Pelni dan INSA menunjukkan biaya kepelabuhanan sekitar 31 persen dan biaya transportasi laut sekitar 19 persen, sementara biaya transportasi hinterland mencapai sekitar 50 persen.
Keempat, kontribusi terhadap pengurangan kesenjangan perekonomian antarwilayah. Pada tahun 2020, misalnya, distribusi Produk Domestik Bruto masih didominasi wilayah Jawa (58,75 persen) dan Sumatera (21,36 persen).
ADVERTISEMENT
Supply Chain Indonesia berharap pasca-merger Pelindo yang diwujudkan Erick Thohir ini, akan berperan melalui pelabuhan-pelabuhannya di empat wilayah yang berkontribusi terhadap PDB masih rendah, yaitu Kalimantan (7,94 persen), Sulawesi (6,66 persen), Bali-Nusa Tenggara (2,94 persen), dan Papua (2,35 persen).
"Menurut UU No. 19/2003 tentang BUMN, selain mengejar keuntungan, salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN lainnya adalah memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya," kata Chairman Supply Chain Indonesia itu.