Kumparan Logo

Erick Thohir Sebut Harga Pertamax Bisa Turun Lagi Bergantung Minyak Mentah Dunia

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri BUMN Erick Thohir sidak ke SPBU Pertamina di Tangerang, Sabtu (20/8/2022). Foto: Kementerian BUMN
zoom-in-whitePerbesar
Menteri BUMN Erick Thohir sidak ke SPBU Pertamina di Tangerang, Sabtu (20/8/2022). Foto: Kementerian BUMN

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebut harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax berpeluang turun. Ia mengatakan hal itu disebabkan lantaran harga Pertamax ditentukan dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia.

Erick mengungkapkan apabila harga minyak dunia turun, maka Pertamamina akan mengikuti mekanisme tersebut dengan menurunkan harga jual Pertamax kepada masyarakat.

"Banyak juga yang bicara, nanti kalau harga minyak dunia turun seperti apa, ya pasti kita turun, cuma yang mesti diingat apa yang dilakukan pemerintah hari ini, itu mengurangi subsidi," ujar Erick melalui keterangan tertulis usai meninjau Pertamina Integrated Enterprise Data and Command Center (PIEDCC), Jakarta, Rabu (7/9).

Erick menjelaskan BBM seperti Pertalite, Solar, dan Pertamax masih dalam subsidi. Ia menilai jika minyak mentah dunia yang saat ini sebesar USD 95 per barel turun menjadi USD 75 per barel maka akan diikuti dengan harga jual Pertamax kepada masyarakat.

"Kalau nanti harga minyak dunia turun, Pertamax akan harga pasar, jadi bisa saja turun, tapi apakah Solar dan Pertalite itu nanti harga pasar, tidak bisa karena itu subsidi," ucap Erick.

Erick menyampaikan penyesuaian harga Pertamax dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter merupakan upaya pemerintah dalam mengalihkan subsidi agar lebih tepat sasaran. Ia merasa selama ini Pertamina tetap memberikan subsidi untuk Pertamax. Erick mengatakan harga Pertamax sejatinya masih berada di bawah harga keekonomian dan harga yang ditawarkan kompetitor.

"Karena yang selalu diingatkan, yang kita, pemerintah lakukan hari ini bukan kenaikan harga, tapi pengurangan subsidi," kata Erick.

Erick menilai perbandingan harga BBM antarnegara tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja. Ia mengatakan status sebagai negara produsen BBM tentu akan berbeda dengan negara yang hanya mengimpor BBM dalam penentuan harga jual kepada masyarakat.

"Nah ini kadang-kadang persepsi dari masyarakat dibanding-bandingkan, kenapa negara ini lebih murah, karena masih menghasilkan, mayoritas gitu, kalau kita sudah impor," sambung dia.

Lebih lanjut, Erick mengatakan Indonesia sejak sembilan tahun lalu sudah bukan lagi menjadi anggota negara pengekspor minyak atau OPEC. Alhasil, Indonesia masuk dalam kategori yang mengimpor BBM sejak 2003.

Erick Thohir Sebut Akan Ada Penyesuaian Gaji Pekerja

Erick juga menuturkan, pengurangan subsidi BBM akan diimbangi oleh penyesuaian besaran gaji oleh perusahaan untuk para pekerja. Hal tersebut, kata dia, merupakan hal yang lumrah ketika terjadi pengalihan subsidi BBM.

Dia meminta agar BUMN melakukan sejumlah program untuk menyeimbangkan perekonomian. Salah satunya lewat Makmur, sebagai sebuah program dan ekosistem pertanian yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir.

Tak hanya itu, lanjut Erick, BUMN melalui holding perkebunan nusantara juga telah kerja sama sektor kopi dengan perusahaan Belanda.

"Kemarin tanda tangan untuk kopi, dari 7 ribu hektare sudah mulai ada pembelinya dari luar negeri, itu 100 persen swasta dari Belanda, total transaksinya lumayan meski belum besar tapi sudah mencapai 5,6 juta dolar AS," tutur Erick.