Kumparan Logo

Erupsi Anak Krakatau Berpotensi Rugikan Maskapai hingga Rp 19 Miliar per Hari

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan imbas abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berbincang di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Senin (7/9/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan imbas abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berbincang di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Senin (7/9/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Asosiasi Maskapai Penerbangan Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association/INACA) memperkirakan gangguan operasional penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menimbulkan potensi kerugian sekitar Rp 10 miliar hingga Rp 19 miliar per hari bagi maskapai.

Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto, mengatakan estimasi kerugian ini khususnya bagi maskapai yang memiliki rute dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Radin Inten II Lampung (TKG).

"Asumsi erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini menyebabkan VAA (Volcanic Ash Advisory) di FIR Jakarta, dengan sebaran abu ke arah Timur Laut, berdampak ke koridor CGK dan TKG," katanya kepada kumparan, Senin (7/9).

Bayu menjelaskan, terdapat tiga skenario sesuai dengan Volcanic Ash Advisory Centres (VAAC) Darwin dan NOTAM, yakni pembatalan penerbangan (cancel), penundaan (delay), dan pengalihan (divert).

"Kerugian maskapai saat IROP (operasi tidak teratur) abu vulkanik itu double, pendapatan hilang dan biaya naik," ungkap Bayu.

INACA memperkirakan, pembatalan 30-50 penerbangan dengan tingkat keterisian penumpang sekitar 80 persen dapat menyebabkan hilangnya pendapatan maskapai sekitar Rp 8-15 miliar per hari.

Sementara itu, tambahan biaya bahan bakar, awak pesawat, hingga parkir pesawat diperkirakan mencapai Rp 1,5-3 miliar, dan biaya kompensasi dan layanan penumpang, seperti makanan, akomodasi, maupun pengembalian dana tiket, diperkirakan mencapai Rp 500 juta-1,2 miliar per hari.

Dengan demikian, Bayu menghitung estimasi kerugian maskapai dari adanya gangguan penerbangan akibat paparan abu vulkanik mencapai Rp 10-19 miliar per hari.

"Jika berlangsung 1 minggu, Rp 70-130 miliar, ini belum termasuk reputasi dan hilangnya booking di masa depan," jelas Bayu.

instagram embed

Tingkat Keterlambatan dan Pembatalan

INACA memperkirakan, dalam kondisi status Siaga dengan tingkat peringatan abu vulkanik (VAAC) Orange, sekitar 15-25 persen penerbangan dari CGK dan 40-60 persen penerbangan dari TGK berpotensi mengalami keterlambatan atau pembatalan dalam sehari.

Hal ini menimbulkan efek domino yang berujung pada kerugian maskapai yang lebih besar. Komponen kerugian terbesar bagi maskapai, pertama yakni hilangnya pendapatan karena pembatalan, dengan porsi 30-50 persen.

Kemudian kompensasi penumpang sesuai dengan aturan PM 89/2015, penumpang mendapatkan biaya makan dan komunikasi jika delay 4 jam, lalu pengembalian dana dan ganti rute/hotel jika ada pembatalan.

Lalu gangguan jadwal, di mana penundaan satu penerbangan di CGK bisa merembet kepada 3-4 rute selanjutnya. Serta yang terakhir adalah komponen perawatan, di mana maskapai perlu mengeluarkan USD 20.000-50.000 per mesin setelah terbang di area abu vulkanik.

Bayu mengungkapkan, potensi kerugian tersebut bisa terus meluas, tergantung arah mata angin yang akan menyebabkan lebih banyak bandara ditutup, durasi erupsi, hingga industri pariwisata wilayah terdampak menjadi terganggu.

Dampak Gangguan Jangka Pendek

Hanya saja, dia menilai dampaknya kepada industri penerbangan lebih luas berisiko sistemik, namun jangka pendek. Hal ini melihat CGK merupakan hub yang berujung pada gangguan terhadap 40 persen jaringan domestik.

Selain itu, fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi di kuartal III 2026, yang sudah termasuk dalam musim tinggi (peak season) pariwisata. Dampak dari aspek ekonomi juga merembet kepada penerbangan kargo, sehingga terdapat potensi kenaikan biaya logistik.

Dengan seluruh perhitungan tersebut, Bayu memperkirakan bahwa satu minggu gangguan operasional bahkan bisa menghapus laba maskapai dalam satu bulan, apalagi di tengah proses pemulihan pasca COVID-19 yang masih berlangsung.

"Dampak saat ini masih 'manageable' di level IROP. Tapi kalau erupsi dan sebaran abu lebih dari 5 hari, maka dampak ekonomi bisa tembus Rp 100 miliar dan mulai menggerus target Q3/Q4 maskapai. Kuncinya ada di kecepatan informasi VAAC dan fleksibilitas rute dari Airnav," tandas Bayu.