Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.0

Gemuruh suara kapal terdengar bersautan di siang yang terik di kawasan hutan mangrove yang membentang luas di pesisir Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara.

Tanaman mangrove selain menjadi benteng ekosistem pesisir, juga berperan penting dalam kegiatan ekonomi masyarakat sekitar, antara lain menjadi lahan mencari kepiting, udang, kerang dan aktifitas lainnya. Warga juga melakukan inovasi dengan memanfaatkan bahan baku limbah ranting mangrove sebagai pewarna batik .
“Awal mula limbah ranting mangrove bisa dijadikan bahan pewarna pada tahun 2009. Ide ini dari abah (ayah) yang saat itu meminta saya untuk mencoba memakai ranting mangrove. Dan hasilnya ternyata warnanya pekat dan tak mudah pudar, cocok digunakan sebagai pewarna,” kata Rahmawati pemilik batik Liza Mangrove, dilansir Antara.
Untuk menghasilkan warna dari ranting mangrove harus melalui beberapa proses. Kulit dari ranting yang sudah jatuh dari pohon mangrove harus direbus terlebih dahulu satu sampai dua jam hingga muncul warna coklat tua. Setelah air menyusut, warna akan terlihat dan menonjolkan keindahan dari setiap garis motif kain batik.
Batik berbahan limbah mangrove yang sudah digeluti sejak tahun 2013 itu kini sudah menjajaki pasar Eropa. Jerman salah satu negara yang menikmatinya. Batik tersebut menjadi primadona di Jerman karena memiliki ciri khas sendiri. Corak warnanya yang alami serta motif yang unik, layaknya pohon mangrove dengan paduan gambar tari dan rumah adat khas Sumatera Utara.
Kain batik ini djual mulai Rp 150 ribu hingga Rp 1,5 juta per helai, tergantung motif dan teknik membatik. Batik dengan teknik canting bisa menghabiskan waktu hingga enam hari. Sedangkan teknik cetak hanya membutuhkan waktu dua sampai tiga hari per helai kain.
Untuk memperluas pasar dalam negeri, batik mangrove ini juga mengikuti pameran dan ikut ambil bagian dalam peragaan busana di sejumlah daerah seperti di Bali, Jawa dan Sumatera.
Hal ini dilakukan untuk mengembangkan usaha dengan membangun jejaring sesama pelaku UMKM, pemerintah atau pihak swasta serta jejaring digital dengan memanfaatkan teknologi informasi, seperti media sosial hingga marketplace.
Dengan inovasi dan digitalisasi, para pelaku ekonomi kreatif diyakini mampu menjadi tulang punggung perekonomian daerah, sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.