ESDM Beri Sinyal SPBU BP-AKR Tambah Lagi Beli BBM dari Pertamina Jadi 3 Kargo
ยทwaktu baca 3 menit

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan sinyal bahwa PT Aneka Petroindo Raya (APR) atau SPBU BP-AKR menambah pembelian BBM murni (base fuel) dari PT Pertamina Patra Niaga, sehingga totalnya menjadi 3 kargo.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), Laode Sulaeman, mengatakan BP-AKR sejauh ini merupakan satu-satunya badan usaha SPBU swasta yang sepakat membeli BBM dari Pertamina.
Kesepakatan awal, BP-AKR sudah membeli 1 kargo BBM senilai 100 ribu barel melalui kuota impor Pertamina. Kemudian, BP-AKR menambah lagi 1 kargo yang rencananya akan datang pada pekan ketiga November 2025.
Selanjutnya, Laode mengungkapkan badan usaha swasta tersebut berencana menambah lagi pembelian BBM dari Pertamina sebanyak 1 kargo, sehingga total pembeliannya menjadi 3 kargo alias 300 ribu barel.
"BP-AKR kemarin sudah 2 kali pesan 100 ribu 2 kargo, dan kita dengar-dengar akan ada lagi kargo ketiga. Betul (berarti total 300 ribu barel)," ungkap Laode saat ditemui di kompleks parlemen, Rabu (12/11).
Meski begitu, dia belum bisa memastikan kapan kargo ketiga impor BBM oleh Pertamina untuk BP-AKR sampai di Indonesia.
"Insyaallah. Kita doakan ya semoga yang ketiga disetujui juga. Saya belum tahu. Ini kan baru indikasi. Indikasi yang bagus kan," tegas Laode.
Sementara itu, badan usaha SPBU swasta lainnya belum menunjukkan kemajuan terkait negosiasi pembelian BBM dengan Pertamina, baik itu PT Shell Indonesia hingga PT Vivo Energy Indonesia.
Laode menegaskan pemerintah tidak ikut campur terhadap kendala negosiasi antar badan usaha, yang memang berlangsung secara business to business (B2B).
"Kalau mau tanya kendala, lebih pas kepada yang B2B-nya. Kita enggak tahu, karena ada yang berhasil dan ada yang masih membahas. Kalau yang berhasil kan mereka berarti membuktikan sudah tidak ada kendala. Kalau yang belum, tanya yang belum," jelasnya.
Sebelumnya, Laode mengungkapkan negosiasi antara Pertamina dengan SPBU Shell dan Vivo masih berlangsung. Namun, dia menyebutkan pembahasan dengan Vivo sudah mulai ada titik terang.
"Jadi yang belum itu sedang bernegosiasi dengan badan usaha Patra Niaga, dan kemarin memang kami mendapatkan info bahwa Vivo sudah mendekati, akan ada lagi. Jadi kita tunggu saja ya," ungkapnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (7/11).
Laode belum bisa mengungkapkan volume pembelian yang akan disepakati oleh Vivo. Namun, dia membuka peluang jumlahnya sama seperti kesepakatan yang sempat batal sebelumnya, yakni 1 kargo alias 100 ribu barel.
"Kalau proses impor ini kan satu kargo, satu kargo 100 ribu barel. Awalnya juga kan Vivo sudah minta 100 ribu barel. Harusnya, ini belum diputus, harusnya ya sama," tuturnya.
Sementara itu, dirinya masih akan berdiskusi lebih lanjut dengan SPBU Shell, yang saat ini belum bisa memastikan kesepakatan apa pun terkait pembelian BBM Pertamina.
"Masih berproses. Shell tadi baru menghubungi saya, mau ketemu dulu dengan saya, saya bilang oke," ungkap Laode.
