FAA Sebut Boeing 737 Max Mungkin Gunakan Suku Cadang Cacat

Otoritas Penerbangan Sipil Amerika Serikat atau Federal Aviation Administration (FAA)mengungkap masalah baru terkait Boeing 737 Max yang telah dilarang terbang.
Dilansir dari Reuters, FAA mengatakan lebih dari 300 dari pesawat yang bermasalah itu dan jenis 737 lain yang lebih tua, mungkin menggunakan suku cadang yang cacat.
FAA mengatakan sekitar 148 suku cadang 'leading edge slat' atau bilah slat yang diproduksi perusahaan pemasok Boeing terdampak dan juga mencakup 179 pesawat jenis MAX dan 133 pesawat NG di seluruh dunia.
Slat semacam panel, yang berada di bagian sayap pesawat. Saat pesawat hendak lepas landas dan mendarat, panel ini akan terbuka, membuat bagian depan sayap menjadi lebih lebar.
Dalam pernyataan yang dirilis setelah pengumuman itu, Boeing mengaku belum diberitahu adanya isu bilah slat tadi. Boeing menyatakan telah mengidentifikasi 20 pesawat 737 Max yang mungkin mengandung komponen cacat. Maskapai juga akan memeriksa komponen di 159 Max lainnya.
Sementara itu, untuk pesawat Boeing 737 seri NG, Boeing menyatakan telah mengidentifikasi 21 unit yang menggunakan part yang kemungkinan bermasalah. Produsen pesawat asal AS itu menyarankan maskapai yang membeli produknya agar memeriksakan Boeing 737 NG yang ada di armada mereka.
"Kami berkomitmen untuk mendukung pelanggan kami dengan segala cara yang mungkin dilakukan untuk mengidentifikasi atau mengganti bagian-bagian yang berpotensi tidak sesuai," kata President and Chief Executive of Boeing Commercial Airplanes, Kevin McAllister, dikutip dari BBC News.
FAA menyatakan, kerusakan total leading slat track tidak mengakibatkan pesawat menjadi tak berfungsi. Namun suku cadang yang rusak ini bisa menyebabkan pesawat mengalami gangguan dalam penerbangan.
FAA berniat menerbitkan airworthiness directive semacam instruksi yang harus dipenuhi Boeing dan maskapai pengguna 737 untuk mengidentifikasi dan mengganti seluruh suku cadang yang bermasalah.
Setelah instruksi itu terbit, maka maskapai harus memeriksakan armadanya, dan mengganti komponen yang dinilai bermasalah sebelum 10 hari.
