Faisal Basri Khawatir Jokowi Wariskan Angka Kemiskinan Double Digit

7 April 2022 17:11
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ekonom Faisal Basri. Foto: Ela Nurlaela/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ekonom Faisal Basri. Foto: Ela Nurlaela/kumparan
ADVERTISEMENT
Ekonom Senior Faisal Basri menyebut, tingkat inflasi yang tinggi akibat lonjakan harga pangan akan membuat angka kemiskinan meningkat. Bahkan, kata dia, jumlah orang miskin diproyeksikan akan kembali double digit dari posisi saat ini yang single digit, yaitu 9,71 persen pada September 2021.
ADVERTISEMENT
"Akan ada legacy (warisan) yang hilang kalau inflasi tinggi, jumlah orang miskin akan double digit lagi. Padahal, Pak Jokowi ingin hilangkan angka kemiskinan," ujar Faisal di acara diskusi virtual yang diselenggarakan infobankTV bertajuk "Harga Kian Mahal: Recovery Terganggu?" Kamis (7/4).
Faisal menjelaskan, tingkat kemiskinan sangat mungkin meningkat, sejalan dengan tingginya inflasi. Hal ini karena porsi pengeluaran 20 persen masyarakat dengan pengeluaran terendah hanya untuk membeli bahan makanan. Berdasarkan datanya, sebanyak 64 persen pengeluaran masyarakat miskin habis hanya untuk beli makanan.
Angka tersebut berbeda dengan 20 persen masyarakat kaya yang porsi pengeluaran untuk belanja bahan pangan hanya 39,22 persen. Sejalan dengan itu, harga beberapa komoditas pangan pun tengah naik, seperti minyak goreng yang baik sangat tinggi.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Itu semua pengaruhnya ke rakyat miskin akan besar dan memunculkan tensi sosial atau gejolak sosial," papar Faisal.
Dalam kesempatan tersebut, Faisal pun berharap tak ada perpanjangan masa jabatan presiden. Menurutnya, jika periode Jokowi sebagai presiden diperpanjang justru bisa menimbulkan risiko ekonomi lainnya.
"Mudah-mudahan pak Jokowi tidak tiga periode atau ditambah masa jabatannya, karena semakin ditambah masa jabatannya yang bagus-bagus bisa jadi jelek," kata dia.
"Oleh karena itu, kita sayang sama pak Jokowi, cukup sampai 2024 saja," pungkasnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020