Kumparan Logo

Fakta-Fakta Tarif KRL Jabodetabek Naik

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah calon penumpang antre memasuki gerbong kereta rel listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek di Stasiun KA Tanah Abang, Jakarta, Rabu (5/1/2022). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah calon penumpang antre memasuki gerbong kereta rel listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek di Stasiun KA Tanah Abang, Jakarta, Rabu (5/1/2022). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto

Tarif KRL Jabodetabek diusulkan naik semula Rp 3.000 menjadi Rp 5.000 di 25 km pertama. Kenaikan tersebut berdasarkan survei yang telah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

"Jadi kalau yang semula berdasarkan Peraturan Menteri tarif semula sebesar Rp 3.000 per 25 km pertama ini akan dinaikkan menjadi Rp 5.000. Kemudian per 10 km selanjutnya tetap kenaikan Rp 1.000 rupiah. Nah ini yang masih kami diskusikan," tambah PLT Kasubdit Penataan dan Pengembangan Jaringan Ditjen Perkeretaapian Kemenhub, Arif Anwar.

Rencananya usulan kenaikan tarif tersebut bisa diterapkan mulai 1 April 2022. Kenaikan tersebut tidak terlepas dari tarif KRL Jabodetabek yang belum pernah naik sejak tahun 2015. Berikut adalah fakta-faktanya:

Usul Tarif KRL Jabodetabek Naik

Arif Anwar, mengungkapkan pihaknya sudah menggelar survei Ability To Pay (ATP) atau kemauan seseorang untuk membayar dan Willingness To Pay (WTP) atau kemampuan seseorang untuk membayar.

Arif menjelaskan, teknis survei menggunakan direct interview ke penumpang dengan sistem pertanyaan terpandu atau leading question.

"Interview dilakukan pada slot waktu keberangkatan karyawan kantor atau office workers rush hour pada pukul 06.30 sampai 08.30 di dalam dan sekitar stasiun,” kata Arif saat webinar yang digelar INSTRAN, Rabu (12/1).

Dari survei yang dilakukan, dihasilkan untuk di Bogor rata-rata ATP Rp 8.572 dan WTP Rp 6.000. Di Bekasi rata-rata ATP Rp 9.327 dan WTP Rp 4.000. Di Serpong rata-rata ATP Rp 7.439 dan WTP Rp 4.000. Di Tangerang rata-rata ATP Rp 7.606 dan WTP 4.500. Sehingga total rata-rata ATP adalah 8.486 dan WTP 4.625.

"Nah ini dari hasil survei tadi, sebenarnya masih tahap diskusi juga bahwa kita akan mengusulkan penyesuaian tarif kurang lebih sebesar Rp 2.000 untuk 25 km pertama," ungkap Arif.

Petugas keamanan mengimbau calon penumpang kereta rel listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek untuk selalu menerapkan protokol kesehatan di Stasiun KA Tanah Abang, Jakarta, Rabu (5/1/2022). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto

Alasan Kemenhub Mau Naikkan Tarif KRL Commuter Line: UMP Naik

Kemenhub juga menjelaskan bahwa Upah Minimum Provinsi (UMP) di tahun ini naik sebesar rata-rata 1,09 persen. Sehingga

menurutnya, sejumlah hal tersebut menjadi latar belakang kenaikan tarif commuter line.

“Kemudian kita melihat sebenarnya kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) itu kan sudah mengalami beberapa kali kenaikan. Nah ini sebenarnya yang menjadi latar belakang kenapa kita perlu melihat kira-kira perlu ada penyesuaian tarif untuk KRL Jabodetabek ini,” tutur Arif.

Selain itu, tingkat inflasi yang terjadi di Indonesia berpengaruh juga ke biaya pengoperasian KRL Jabodetabek. Alasan selanjutnya adalah dari tahun ke tahun ada anggaran peningkatan kebutuhan atau kewajiban pelayanan publik atau Public Service Obligation (PSO) yang terus meningkat.

Penumpang naik ke dalam rangkaian kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (6/5/2021). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

YLKI Setuju Tarif KRL Jabodetabek Naik Rp 2.000

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, tidak begitu mempermasalahkan rencana usulan kenaikan tarif KRL Jabodetabek.

Apalagi, kata Tulus, kalau kenaikan tarif sudah memperhitungkan Ability To Pay (ATP) atau kemauan membayar dan Willingness To Pay (WTP) atau kemampuan membayar.

"Berdasarkan pertimbangan ATP, WTP, tingkat kepuasan pengguna, dan berbagai kelebihan pada moda transportasi commuter maka PT KAI memiliki ruang untuk menaikkan tarif dasar kereta commuter sebesar Rp 2.000," kata Tulus saat webinar yang digelar INSTRAN, Rabu (12/1).

Meski begitu, Tulus mengakui kenaikan tarif bisa saja berakibat pada penurunan jumlah penumpang sebesar 3 persen. Namun, penurunan tersebut tidak otomatis membuat banyak orang beralih ke moda transportasi lain.