Kumparan Logo

Fakta soal RI Akan Resesi: Ekonomi Minus 2,9 Persen, Utang Membengkak

kumparanBISNISverified-green

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
Aktivitas di Terminal 3 Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas di Terminal 3 Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Ancaman resesi terhadap perekonomian Indonesia kian tak mampu dihindari. Menteri Perekonomian Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi masih akan negatif di kuartal III.

Dalam hitung-hitungan terbarunya, Sri Mulyani memperkirakan ekonomi bakal minus 2,9 persen hingga minus 1,1 persen. Di sisi lain, utang negara juga kian membengkak, mencapai Rp 693 triliun di akhir Agustus 2020. Berikut fakta-faktanya sejauh ini.

Sri Mulyani Proyeksi Ekonomi Kuartal III Minus 2,9 Persen

Setelah perekonomian kuartal II terkoreksi hingga minus 5,3 persen, kini kuartal III bakal bernasib serupa. Sri Mulyani mengubah perkiraannya, dari yang sebelumnya di rentang minus 1,1 persen hingga 0,2 persen, kini minus 2,1 sampai 0 persen.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia, ini memproyeksi perekonomian Indonesia mencapai minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen. Sebelumnya, ia masih memperkirakan ekonomi di tahun ini tumbuh minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen.

"Kemenkeu melakukan revisi forecast September ini, yang sebelumnya tahun ini minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen, forecast terbaru kita untuk 2020 pada kisaran minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers online APBN KiTa, Selasa (22/9).

Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan paparan saat konferensi pers terkait dampak virus corona di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Utang Baru Pemerintah Capai Rp 693 Triliun

Di tengah pandemi COVID-19, pemerintah telah menarik utang baru mencapai Rp 693,6 triliun per akhir Agustus 2020.

Pembiayaan utang ini ditempuh demi menutup defisit APBN yang realisasinya mencapai Rp 500 triliun akhir bulan lalu.

Utang tersebut tumbuh 14,43 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dengan demikian, Sri Mulyani mengakui bahwa beban APBN kian berat.

"Ini kenaikan luar biasa, yakni 143 persen dari tahun lalu. Beban APBN kita luar biasa berat dan ini terlihat dari sisi pembiayaannya," ujar Sri Mulyani