Fed Pangkas Suku Bunga Jadi 3,75%-4%, Isyaratkan yang Terakhir Tahun Ini
·waktu baca 3 menit

Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve atau The Fed kembali menurunkan suku bunga di kisaran 3,75 persen sampai 4,00 persen atau 150 basis poin di bawah puncaknya tahun lalu pada Rabu (29/10) waktu setempat.
Namun, Ketua The Fed Jerome Powell memberi sinyal pemangkasan ini bisa jadi yang terakhir di tahun 2025 terutama jika penutupan sebagian government shutdown di AS terus berlanjut dan membuat data ekonomi sulit diakses.
Dikutip dari Reuters pada Kamis (30/10), dalam konferensi pers usai pertemuan kebijakan dua hari, Powell mengatakan keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin merupakan langkah untuk menopang pasar tenaga kerja yang mulai melambat.
“Dalam rapat kali ini, ada perbedaan pandangan yang cukup tajam soal langkah pada Desember nanti. Pemangkasan suku bunga lebih lanjut bukan sesuatu yang pasti,” kata Powell.
Beberapa pejabat menilai level ini sudah berada di posisi netral dan menjadi saat untuk menunggu dan melihat perkembangan sebelum ada langkah baru. Keputusan menurunkan suku bunga menjadi 3,75 persen hingga 4,00 persen itu disetujui dengan hasil voting 10-2.
Keputusan tersebut tidak bulat karena dua pejabat The Fed berbeda pendapat. Gubernur Fed Stephen Miran menginginkan pemangkasan yang lebih besar, sementara Presiden Fed Kansas City Jeffrey Schmid justru menolak pemangkasan sama sekali karena inflasi masih jadi perhatian.
Pengumuman itu juga menyoroti keterbatasan data akibat shutdown pemerintah AS yang menurut Powell menjadi tantangan utama dalam pengambilan keputusan.
“Kami akan mengumpulkan semua data yang bisa kami temukan dan menilainya dengan hati-hati. Kalau ditanya apakah hal ini bisa mempengaruhi rapat Desember, saya tidak bilang pasti, tapi bisa saja. Seperti kalau sedang menyetir dalam kabut, tentu kita akan memperlambat laju,” ujar Powell.
Powell sendiri menilai suku bunga saat ini masih sedikit menekan inflasi yang menurutnya bisa naik sementara dalam beberapa bulan ke depan akibat tarif impor baru sebelum akhirnya kembali turun.
Dari sisi neraca keuangan, The Fed akan menjaga total aset sekitar USD 6,61 triliun tetap stabil mulai 1 Desember dengan mengalihkan hasil dari surat berharga berbasis hipotek ke surat utang negara.
Di masa depan The Fed akan melanjutkan ekspansi cadangan tetapi juga memperpendek durasi kepemilikan aset agar lebih sejalan dengan pasar obligasi pemerintah AS.
Saat ini, The Fed memang mengakui ada keterbatasan data akibat government shutdown. Hal ini membuat pandangan soal data pengangguran masih mengacu pada data Agustus yang merupakan bulan terakhir sebelum shutdown.
Meski begitu, The Fed menyebut indikator yang tersedia menunjukkan bahwa ekonomi AS masih tumbuh dengan laju moderat.
Inflasi pun tidak naik setinggi perkiraan meski ada tarif impor baru yang ditetapkan Presiden AS, Donald Trump. Berdasarkan data terakhir Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) sebelum shutdown, inflasi naik dari 2,3 persen pada April menjadi sekitar 2,7 persen pada Agustus.
The Fed menargetkan inflasi di 2 persen dan memperkirakan bisa naik ke 3 persen di akhir tahun sebelum perlahan menurun lagi. Sementara itu, kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja semakin meningkat.
