Kumparan Logo

Fenomena April Rebound Ditopang Musim Dividen, tapi 2026 Tertekan Perang Iran

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026).  Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Fenomena April Rebound kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Secara historis, bulan April identik dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), salah satunya didorong oleh musim pembagian dividen dan rilis laporan keuangan emiten. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut pola ini sebagai hal yang wajar terjadi dalam siklus pasar. “Kalau secara 25 tahun terakhir itu kinerja April, di bulan April itu bullish. Jadi wajar saja kalau ada fenomena terkait dengan April rebound, itu bisa saya setuju,” ujar Nafan kepada kumparan, dikutip Kamis (23/4). Momentum ini biasanya muncul karena investor kembali masuk setelah mendapatkan kepastian kinerja emiten sekaligus memanfaatkan pembagian dividen. Namun, kata Nafan, kondisi April 2026 tak sepenuhnya sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Tekanan global, khususnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, AS, dan Israel, serta lonjakan harga minyak, membuat sentimen pasar cenderung tertahan. Pelemahan rupiah yang terdepresiasi hingga Rp 17.304 pada Kamis (23/4) dan arus keluar modal asing juga menambah tekanan terhadap IHSG. Jika melihat data historis Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada bulan April lima tahun terakhir memang menunjukkan kecenderungan menguat meskipun tak selalu konsisten setiap tahun. Setelah berada di level 4.716,40 pada April 2020, IHSG naik menjadi 5.995,62 pada April 2021, lalu melonjak di level 7.228,91 pada April 2022. Pada 2023 indeks turun berada di 6.915,716, meningkat lagi ke 7.234,197 pada April 2024, sebelum turun ke level 6.766,795 pada April 2025.

Daftar Emiten yang Membagikan Dividen April 2026

Sektor Perbankan

Ilustrasi Maybank. Foto: Shutter Stock

Merujuk hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Perseroan yang digelar pada Jumat (17/4) lalu. PT Maybank Indonesia Tbk (BNII) menetapkan dividen Rp 580,07 miliar atau Rp 7,61 per saham, yang akan dibayarkan pada 13 Mei 2026. Nilai ini naik dibandingkan dividen tahun sebelumnya sebesar Rp 446,38 miliar. Kinerja perusahaan juga menguat, dengan laba bersih 2025 mencapai Rp 1,66 triliun, tumbuh 48,5 persen secara tahunan. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) membagikan dividen Rp 4,07 triliun atau Rp 161,77 per saham atau 60 persen dari laba bersih, meningkat dari Rp 3,9 triliun pada tahun sebelumnya. Ini diputuskan saat RUPST pada 17 April 2026. Pembayaran dijadwalkan pada 13 Mei 2026, dengan laba bersih 2025 sebesar Rp 6,93 triliun. Sebelumnya jika dibandingkan, BNGA membagikan dividen tunai sebesar Rp 3,9 triliun untuk tahun buku 2024. Nilai dividen itu setara Rp 155,37 per saham. Lalu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) telah menyalurkan dividen final Rp 281 per saham pada 8 April 2026, setelah sebelumnya membagikan dividen interim Rp 55 per saham. Total dividen mencapai Rp 41,3 triliun dengan Dividend Payout Ratio (DPR) 72 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sekitar 67,4 persen. Laba bersih BCA tercatat Rp 57,5 triliun, naik 4,9 persen yoy. Jika dibandingkan pada tahun buku 2024, BBCA membagikan dividen tunai sebesar Rp 300 per saham atau seluruhnya berjumlah Rp 36,98 triliun.

Sektor Otomotif

Aktivitas produksi mobil listrik VinFast di pabrik Subang, Jawa Barat, Senin (15/12/2025). Foto: Laras Kiranasari/kumparan

Di sektor otomotif, pembagian dividen juga meningkat seiring pertumbuhan kinerja. Pada RUPST 17 April 2026 lalu, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) menetapkan dividen Rp 1,1 triliun atau Rp 229 per saham. Dividen final Rp 170 per saham akan dibayarkan pada 15 Mei 2026. Nilai ini meningkat dari Rp 133 per saham pada tahun sebelumnya. Laba bersih 2025 tercatat Rp 2,2 triliun, naik 8,43 persen. Pada tanggal RUPST yang sama dengan AUTO, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) menyetujui pembagian dividen Rp 329,4 miliar atau Rp 70 per saham, melonjak dari Rp 43 per saham pada tahun buku 2024.

Sektor Energi dan Pertambangan

Ilustrasi kilang minyak dan gas. Foto: Rangsarit Chaiyakun/Shutterstock

Sesuai hasil RUPST tertanggal 17 April 2026, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menetapkan dividen USD 115 juta atau 60 persen dari laba bersih, turun dibandingkan USD 243 juta pada tahun sebelumnya. Selanjutnya, RUPST tanggal 17 April 2026, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mengumumkan dividen USD 197,5 juta atau sekitar Rp 3,39 triliun, dengan pembayaran pada 8 Mei 2026. Nilai ini lebih rendah dari Rp 4,88 triliun pada tahun buku sebelumnya. Selanjutnya, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mengumumkan rencana pembagian dividen tunai senilai USD 197,5 juta untuk tahun buku 2025. Keputusan telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan yang digelar pada 17 April 2026. Pembayaran dividen dijadwalkan pada 8 Mei 2026. Sementara itu, tanggal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 27 April 2026, dengan ex dividen pada 28 April 2026. Daftar pemegang saham yang berhak atas dividen (recording date) jatuh pada 29 April 2026. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, ADRO membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar USD 447,69 juta. Perseroan juga mencatat saldo laba ditahan yang tak dibatasi penggunaannya sebesar USD 3,22 miliar, serta total ekuitas mencapai USD 5,00 miliar. Sebelumnya jika dibandingkan, ADRO membagikan dividen tunai sebesar Rp 4,88 triliun atau Rp 166,69 per saham.

Sektor Barang Konsumen

Melalui RUPST tanggal 15 April 2025, PT MDS Retailing Tbk (LPPF) menetapkan dividen Rp 564 miliar atau Rp 250 per saham (78 persen dari laba bersih), turun dari Rp 300 per saham pada tahun buku 2024. Kemudian, berdasarkan RUPST tanggal 16 April 2026, PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) membagikan total dividen Rp 701,05 miliar dari laba bersih Rp 1,10 triliun. Jika dibandingkan pada tahun buku 2024, TLDN membagikan dividen tunai sebesar Rp 401,34 miliar, atau setara Rp 31 per saham. Keputusan ini diambil berdasarkan perolehan laba bersih perseroan sebesar Rp 825,5 miliar sepanjang tahun 2024.