Kumparan Logo

Foto: Potret Kesenjangan Ekonomi

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Deretan pemukiman kumuh di kawasan Manggarai, Jakarta, Selasa (5/11/2019). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Deretan pemukiman kumuh di kawasan Manggarai, Jakarta, Selasa (5/11/2019). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Ragam program ekonomi yang digagas Presiden Joko Widodo atau Jokowi, dianggap belum berhasil mengatasi masalah kesenjangan.

Bahkan Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J. Rachbini, menilai kesenjangan ekonomi saat ini masih lebih buruk dibandingkan masa Orde Baru.

embed from external kumparan

Untuk diketahui, penilaian ini mencuat sebelum ada pandemi virus corona yang berdampak buruk terhadap perekonomian. Di antaranya menambah jumlah orang miskin dan pengangguran. Dalam pidato nota keuangan Presiden Jokowi pada Jumat (14/8), angka kemiskinan di 2021 diproyeksi 26,4 juta orang, naik dari sebelumnya 24,8 juta orang.

Sementara itu angka pengangguran, menurut data Bappenas akan bertambah 3,7 juta orang sebagai dampak pandemi virus corona, di posisi 15 juta orang.

Suasana pemukiman padat di kawasan Kebun Melati Foto: Aditia Nonviansyah/kumparan

Pendapat ekonom Indef lainnya, Rusli Abdullah, mengungkap data soal kegagalan Dana Desa mengatasi kesenjangan ekonomi. Pada periode 2014-2019 (Kemiskinan per September), delta pengurangan kemiskinan desa lebih kecil dari pada delta kemiskinan kota.

"Delta penurunan kemiskinan desa 1,16 persen, sedangkan kota 1,6 persen," ujar Rusli.

Padahal di desa pada periode 2014-2019 ada program Dana Desa. Sehingga menurut Rusli, angka tersebut di atas menjadi entry point untuk menggali lebih lanjut efektifitas Dana Desa dalam menurunkan angka kemiskinan di desa.

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.