Kumparan Logo

G20 Indonesia Dorong Green Pharmacy Jadi Solusi Atasi Krisis Akibat Pandemi

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kanan) sebagai U20 Co-Chair bersama Lead Co-Chairs T20 Bambang PS Brodjonegoro menyampaikan gagasan pada gelar wicara Road To Presidensi G20 di Bandung, Kamis (24/2). Foto: Novrian Arbi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kanan) sebagai U20 Co-Chair bersama Lead Co-Chairs T20 Bambang PS Brodjonegoro menyampaikan gagasan pada gelar wicara Road To Presidensi G20 di Bandung, Kamis (24/2). Foto: Novrian Arbi/ANTARA FOTO

Para pemikir di negara-negara G20 atau The Think of 20 (T20) mendorong para pembuat kebijakan untuk meningkatkan industri farmasi yang ramah lingkungan (green pharmacy). Hal ini dinilai menjadi salah satu solusi untuk dunia ketika menghadapi krisis akibat pandemi.

Lead Co-Chairs T20 Indonesia Bambang Brodjonegoro mengatakan, Indonesia saat ini tengah mengembangkan green pharmacy, yakni fitofarmaka, obat-obatan herbal dan tradisional. Menurut mantan Menteri Keuangan itu, green pharmacy bisa mengurangi impor sekaligus menciptakan kemandirian bangsa dalam menghadapi situasi darurat.

"Tidak hanya menguras devisa negara, impor bahan baku obat juga dapat menyebabkan supply shock saat terjadinya keadaan darurat seperti pandemi COVID-19," ujar Bambang dalam webinar T20 Indonesia: Green Pharmacy's Role in Supporting Global Health Architecture, Selasa (6/9).

Selain Indonesia, lanjut dia, green pharmacy juga diperlukan oleh seluruh negara, baik negara berkembang maupun negara maju. Menurutnya, produk herbal pun bisa memenuhi kebutuhan kesehatan dasar masyarakat, karena memiliki khasiat tinggi serta dapat menjadi obat bagi penyakit menular dan tidak menular," jelasnya.

Bambang Brodjonegoro saat menyampaikan keterangan soal Smart City dan Living Lab dalam kegiatan webinar yang diadakan SCCIC ITB pada Rabu (1/6/2022). Foto: Dok. Istimewa

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Lucia Rizka Andalusia mengatakan, obat-obatan herbal saat ini memang menjadi fokus dunia, termasuk negara-negara G20. Salah satu pemicunya adalah pandemi COVID-19, yang membuat anggaran pemerintah di banyak negara terpakai untuk perawatan kesehatan.

"Obat herbal menjadi fokus para peneliti dan industri di dunia termasuk negara-negara G20. Saat ini semakin banyak negara yang mengakui peran jamu dalam sistem kesehatan nasional mereka," jelasnya.

Lucia merujuk data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di mana saat ini China sudah sangat serius dalam penggunaan obat herbal. Selain itu, saat ini sebanyak 50-70 persen resep obat di Jepang merupakan obat herbal.

Tak hanya itu, negara seperti Chile dan Inggris juga bahkan telah menggunakan resep obat herbal hingga 40 persen, Amerika Serikat 42 persen, Prancis 49 persen, dan Kanada 70 persen.

Meski demikian, Lucia mengakui bahwa Indonesia memiliki tantangan tersendiri untuk mendorong pemanfaatan obat herbal, di antaranya adalah kesulitan dukungan penelitian hingga sistem kesehatan yang saat ini belum terintegrasi.

"Tapi hal ini seharusnya tidak memperlambat potensi produk herbal, kita harus melihat ini sebagai peluang. Indonesia dengan sekitar 143 hektar hutan tropis, dengan 28.000 spesies tumbuhan, 32 ribu bahan telah dimanfaatkan. Indonesia dengan 217 juta penduduk tetap menjadi pemain utama baru untuk Farmasi Hijau dengan produk jamu," kata Lucia.

Dari sisi industri, Biomolecular Pharmacy Expert Dexa Group, Raymond Tjandrawinata, menjelaskan bahwa saat ini green pharmacy memiliki peran penting bagi kondisi lingkungan saat ini. Dia mengatakan, farmasi memang sangat bermanfaat bagi manusia, namun limbahnya juga sangat merugikan.

"Menurut SeaStats, di Asia Tenggara, Indonesia berada di peringkat 3 terbawah negara enviromentally friendly. Jadi ini perlu kita tingkatkan. Jadi apakah kita masih ingin mencemari lingkungan dengan limbah besar di obat-obatan," jelas Raymond.

Dia menuturkan, saat ini diperlukan industri farmasi yang tidak mencemari lingkungan. Untuk itu, dibutuhkan pengembangan dalam green pharmacy.

"Green pharmacy adalah obat berbasis bukti, sehingga para dokter dapat mempercayai dan meresepkan produknya. Produk alami ini tidak kalah dengan produk konvensional. Misalnya, kami head-to-head antara Readacid dan produk Omeprazole lainnya. Produk Green Pharmacy yang baik dapat menggantikan produk yang berbahan kimia," kata Raymond.

Menurutnya saat ini juga diperlukan kolaborasi agar obat herbal atau green pharmacy di Indonesia bisa meningkat 40-50 persen. Dexa Group sendiri, kata dia, sudah memproduksi fitofarmaka sejak 2011

"Produk green pharmacy kami sudah sangat dihargai di negara lain. Kita perlu bekerja sama agar dokter dapat meresepkan ini karena greeen pharmacy menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kualitas hidup manusia," tambahnya.