Gaet BUMN China, Ini 3 Tahap Pengembangan Pabrik Blast Furnace Krakatau Steel
·waktu baca 2 menit

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) resmi menggaet Baowu Group Zhongnan Co. Ltd untuk menghidupkan lagi pabrik Blast Furnace Complex. Lokasi pabrik ada di Cilegon, Banten.
Baowu Group BUMN baja milik China yang merupakan perusahaan baja terbesar peringkat satu di dunia dengan total kapasitas produksi sebesar 120 juta ton per tahun di 2021 berdasarkan data World Steel Association pada 2021.
Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan ada pemilihan Baowu Group setelah melewati tahap seleksi terhadap 3 perusahaan yang dilakukan bersama konsultan independen ternama. Dengan terpilihnya Baowu menjadi mitra, ada tiga tahap pengembangan pabrik yang sempat mangkrak ini.
Blast Furnace Complex seluas total 74 hektare yang awalnya dibangun pada 2012 kemudian dirampungkan pada 2019, merupakan investasi yang sudah dilakukan Krakatau Steel. Sejak itu pabrik Blast Furnace dihentikan sementara pengoperasiannya karena dinilai tidak efisien. Kerja sama reaktivasi ini adalah salah satu upaya dan solusi dari manajemen agar fasilitas yang selama ini tidak terpakai dapat memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan.
“Kerja sama Krakatau Steel dan Baowu Zhongnan Co. Ltd. rencananya akan dimulai pada akhir Desember 2022 ini,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (29/9).
Reaktivasi ini direncanakan akan dilakukan dalam tiga tahap yakni Tahap 1 akan dilakukan pembaruan pada Wire Rod Mill sehingga dapat memproduksi Wire Rod hingga 600.000 ton per tahun.
Tahap 2 yang juga dilakukan secara paralel dengan Tahap 1 dimulai dari reaktivasi pada Blast Furnace Complex dengan mengoptimalkan penggunaan energi melalui pembangunan Basic Ocxygen Furnace (BOF) baru dan fasilitas pengecoran Billet yang dapat menghasilkan Billet dengan total 1,5 juta ton per tahun.
Pada Tahap 3 akan dibuat jalur produksi baja berupa Blast Furnace Complex baru yang akan menghasilkan Billet sebanyak 2,2 juta ton per tahun.
Silmy menambahkan bahwa dengan begitu reaktivasi ini akan mendukung ketersediaan bahan baku untuk produksi Krakatau Steel sehingga membuat biaya operasional semakin kompetitif. Produksi pabrik juga dapat meningkat sehingga kami dapat memaksimalkan produksi baja hulu Krakatau Steel.
“Dengan reaktivasi kedua pabrik ini, kami dapat memaksimalkan produksi baja hulu Krakatau Steel dan turunannya sehingga kami akan mampu mensubstitusi produk-produk baja long product yang selama ini dipenuhi melalui impor. Ini adalah salah satu bentuk kontribusi kami dalam memaksimalkan utilisasi produk baja domestik untuk pemenuhan kebutuhan industri dalam negeri,” tutup Silmy.
