Gaji Pekerja di Swiss Rp 84 Juta/Bulan Tapi Hidupnya Pas-pasan

Swiss, sebagai salah satu negara maju di dunia, tentu memikirkan kesejahteraan setiap warganya. Gaji karyawan yang baru lulus di sana bisa mencapai 6.000 Swiss Franc/bulan atau sekitar Rp 84 juta (kurs Rp 14.000).
Namun, benarkah warga Swiss kaya raya?
Dosen Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB), Arya Hadi Dharmawan mengatakan, warga Swiss memang tidak kaya raya, tapi mereka sangat sejahtera. Apa beda kaya raya dan sejahtera?
Arya mencontohkan, seorang sarjana dari universitas (jalur sains) atau Fach-hochsohule (jalur politeknik) ketika memasuki dunia kerja mendapatkan gaji sekitar 6.000 Swiss Franc atau Rp 84 juta/bulan, sangat pas-pasan untuk hidup di negara yang terkenal dengan produk cokelatnya.
"Banyakkah jumlah itu? Jika gaji itu dipakai untuk hidup di Indonesia pastilah banyak sekali. Tetapi, jumlah itu sangat pas-pasan untuk hidup di Swiss, terlebih bila sang sarjana tadi beristri dan beranak dua orang. Pasti ia menjadi sangat kekurangan," ujar Arya seperti dilansir kumparan (kumparan.com) melalui akun media sosialnya, Selasa (12/9).
Dosen yang kerap mengunjungi Swiss ini mengatakan, biaya hidup di negara tersebut sangat tinggi. Sewa rumah untuk ukuran standar, yakni 80-100 meter persegi, sebesar 2.000 Swiss Franc atau sekitar Rp 28 juta/bulan.
Sebagai keluarga yang hidup di negara sejahtera, mereka juga harus membayar asuransi jiwa, kesehatan, dan dana pensiun. Untuk sekeluarga inti atau empat kepala, kepala keluarga mengeluarkan sekitar 1.200 Swiss Franc, atau sekitar Rp 16,8 juta/bulan.
"Sisanya untuk hidup sehari-hari, membayar bensin untuk mobil (harga bensin setara Pertamax di Swiss adalah 1,5 Swiss Franc atau Rp 21.000/liter, tak ada bensin Premium di Swiss)," katanya.
Makan siang di rumah makan standar sebesar 20 Swiss Frac atau Rp 280 ribu/orang, sudah termasuk makanan dan minuman. Lalu harga sebotol air mineral ukuran 600 ml di sana bisa mencapai Rp 30.000, atau sepuluh kali lipatnya di Indonesia. Sedangkan tarif kereta api cepat berjarak 150 km untuk kelas II sekitar Rp 800 ribu/orang dewasa sekali jalan.
"Sehingga sebagai karyawan biasa dengan gaji Rp 84 juta/bulan, bisa dipastikan hidup di Swiss (suami, isteri dan 2 anak), pastilah pas-pasan. Namun, mereka yang manajer, guru besar di universitas, dan kelas menengah lain memang pendapatannya bisa 3-4 kali lipat dari sang karyawan tadi," jelas Arya.
Namun, di Swiss berlaku juga pajak progresif. Semakin tinggi gaji, pajak yang harus disetor juga semakin besar. Lantas, apakah seorang karyawan di Swiss akan kekurangan?

Menurut Arya tidak. Sebab, negara (melalui Gemeinde atau kantor pemerintah kota) akan melindungi karyawan lulusan sarjana tadi secara penuh melalui pajak para orang yang bergaji 4-5 kali lipat darinya.
"Ada tunjangan anak, ada tunjangan sosial dan sebagainya, sehingga hidup menjadi bergairah. Dengan gaji sedemikian pun, keluarga tadi bisa menikmati liburan," tuturnya.
Di Swiss, produktivitas sumber daya manusia dipacu dengan gaji. Semakin tinggi gajinya, kelak pensiun yang didapat juga tinggi.
Semua warga Swiss, baik PNS, swasta ataupun petani, akan mendapat tunjangan sosial kesejahteraan di hari tua yang diambil dari pajak, bernama Alters- und Hinterlassenenversicherung (AHV), yang besarnya dipatok 2.500 Swiss Franc atau Rp 35 juta/bulan. Bagi yang memiliki gaji, dana pensiun dari pemerintah pasti di atas AHV.
"Dengan uang tersebut, minimum survival (seorang diri) dipenuhi, walau pas-pasan. Tetapi, negara via pemerintah daerah akan memberikan tunjangan lain (sesuai kemampuan pemerintah daerah), hingga seseorang tetap bisa hidup layak pada akhirnya," kata Arya.
Berlaku juga untuk pendidikan. Di Swiss, sekolah dari SD hingga S3 gratis bagi penduduknya. Bahkan jika ingin tiga atau empat kali meraih gelar doktor pun bebas biaya.
"Jadi benarkah orang Swiss kaya raya? Jawabannya tidak. Orang Swiss tidak kaya raya, melainkan orang Swiss hidupnya sejahtera, karena individu, swasta dan negara bekerja bahu-membahu menegakkan kesejahteraan. Mereka bukanlah hidup dalam kemewahan ala selebritis kaya raya," jelas dia.
Berbeda dengan Indonesia, lanjutnya, seseorang bisa bergaji Rp 100 juta/bulan hingga Rp 250 juta/bulan, tapi masih ada juga yang pendapatannya tidak tetap, sebesar Rp 1,5 juta/bulan atau lebih rendah.
"Dan negara memberikan subsidi yang tidak optimal, kecuali BPJS kepada mereka golongan bawah ini. Keadaan ini sudah berjalan sejak 17-8-1945 sampai sekarang. Salam hangat dari Swiss. Mari kita perbaiki Indonesia. Tidak perlu caci-maki. Berpikirlah dan bertindaklah untuk Indonesia yang lebih baik," Arya menambahkan.
