Kumparan Logo

Game Online PUBG Cs Bisa Bikin Neraca Pembayaran Indonesia Tekor

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Game PUBG Mobile. Foto: PlayerUnknown's Battlegrounds
zoom-in-whitePerbesar
Game PUBG Mobile. Foto: PlayerUnknown's Battlegrounds

Maraknya aplikasi game online seperti PUBG dan lainnya, diprediksi bisa berpotensi memperlebar neraca pembayaran Indonesia (NPI). Bank Indonesia pun memberikan perhatian khusus pada industri tersebut.

Melalui smartphone, masyarakat bisa mengunduh permainan PUBG, Mobile Legend, atau Free Fire secara gratis. Namun, game tersebut juga menawarkan sejumlah aksesoris pendukung lainnya yang harus dibeli masyarakat secara online.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah, mengatakan game berbayar saat ini tumbuh pesat di Indonesia. Apalagi penetrasi internet mencapai lebih dari 50 persen.

embed from external kumparan

Jika pertumbuhan game online ini semakin meningkat, dia sependapat dengan kekhawatiran bank sentral jika kondisi tersebut dapat mengganggu Neraca Pembayaran Indonesia.

"Jadi penetrasi dan pertumbuhan game online ini bisa dipastikan sangat tinggi. Kalau ini dibiarkan akan mengganggu neraca pembayaran," kata Piter kepada kumparan, Rabu (27/3).

Piter pun meminta pemerintah meregulasi penetrasi impor aksesoris game online seperti PUBG tersebut. Namun di sisi lain juga harus mengedepankan industri kreatif. Bisnis startup asal Indonesia juga dinilai bisa membantu meningkatkan neraca pembayaran.

"Pemerintah harus memikirkan regulasi penetrasi game online ini. Di sisi lain mendorong tumbuhnya startup yang fokus di bidang ini. Kalau bisa punya unicorn, sangat membantu neraca pembayaran, setidaknya mengurangi defisit di neraca perdagangan," jelasnya.

Peserta kompetisi esport PUBG Mobile di Bima Day, Bandung, Jawa Barat. Foto: Habib Allbi Ferdian/kumparan

Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan ketika masyarakat mengunduh aksesoris game berbayar tersebut, maka dana pembayaran akan mengalir ke luar negeri.

Meskipun nilainya relatif kecil hanya sekitar USD 0,5 hingga USD 1 per unduhan, namun dampaknya terhadap neraca pembayaran akan terasa jika dilakukan terus-menerus oleh banyak gamers.

Adapun bank sentral hingga saat ini belum melakukan penghitungan pada sektor game impor berbayar ini dalam komponen NPI. Sebab, game online berbayar ini masuk kategori barang impor digital, yang juga belum terjamah Badan Pusat Statistik (BPS).

"Kalau kita main game itu, kelihatan enggak ke NPI kita? Mudah-mudahan kelihatan. Tapi kalau pun belum kelihatan, yang pasti itu uang Indonesia keluar. Setengah dolar kalau yang main 2 juta orang, itu keluar, ada uang keluar," kata Mirza.