Kumparan Logo

Ganjar dan Anies Tanya Kenapa RI Beli Alutsista Bekas, Ini Kata Prabowo

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

Capres nomor urut satu Anies Baswedan (kanan), capres nomor urut dua Prabowo Subianto (kiri), dan capres nomor urut tiga Ganjar Pranowo beradu gagasan dalam debat ketiga Pilpres 2024 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (7/1/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Capres nomor urut satu Anies Baswedan (kanan), capres nomor urut dua Prabowo Subianto (kiri), dan capres nomor urut tiga Ganjar Pranowo beradu gagasan dalam debat ketiga Pilpres 2024 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (7/1/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Capres nomor urut 01 Anies Baswedan dan capres 03 Ganjar Pranowo mencecar capres 02 Prabowo Subianto saat debat ketiga Pilpres 2024, terkait kebijakan membeli alutsista bekas untuk pertahanan nasional.

Pertanyaan bertubi-tubi dari kedua paslon terkait alutsista bekas mengingat Prabowo sudah 5 tahun ini menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan). Kebijakan itu dinilai memboroskan anggaran negara dan berisiko tinggi.

Dalam pemaparan visi misi, Anies menyoroti anggaran Kemenhan yang selalu yang tertinggi dari semua kementerian, namun jarang ada kenaikan tukin TNI dan banyak yang belum memiliki rumah dinas, malah membeli alutsista bekas.

"Kita ingin mengembalikan dan Rp 700 triliun anggaran Kemhan tidak bisa mempertahankan itu, justru digunakan untuk membeli alat-alat alutsista yang bekas di saat tentara kita lebih dari separuh tidak memiliki rumah dinas," ujarnya saat Debat Pilpres 2024, Minggu (7/1).

instagram embed

Saat sesi tanya jawab, Anies kembali menegaskan terkait penggunaan utang luar negeri seharusnya untuk hal-hal produktif, bukan malah untuk pembelian alutsista bekas yang dinilai nonproduktif.

"Jangan utang itu digunakan untuk kegiatan yang nonproduktif. Misalnya utang dipakai untuk membeli alutsista bekas oleh Kemhan. Itu bukan sesuatu yang tepat, justru kita harus sebaliknya kita kerjakan," tegas Anies.

Tak hanya Anies, Ganjar juga ikut mengkritisi pembelian alutsista bekas, salah satunya pesawat udara. Dia meminta penjelasan Prabowo, mengapa kebijakan berisiko tinggi itu dilakukan.

"Kami tidak rela dengan statement bapak tadi yang saya dukung pak. Kasihan prajurit. Kalau pilotnya itu mesti dilatih 3 tahun, pesawatnya bekas pak, dan dia harus datang lagi pelatihan lagi pak, dengan resiko yang sangat tinggi tentu itu sangat berbahaya," tutur Ganjar.

Menjawab tudingan Anies, awalnya Prabowo menilai pernyataan tersebut menyesatkan rakyat. Bahwa pada dasarnya, alutsista bekas itu tidak masalah dan lumrah dilakukan di bidang pertahanan.

"Saya akan bawa data yang sebenar-benarnya. Jadi barang-barang bekas itu menurut saya menyesatkan rakyat, tidak pantas seorang profesor ngomong begitu, karena dalam pertahanan hampir 50 persen alat-alat di mana pun adalah bekas, tapi usianya masih muda," jelas Prabowo.

Pameran defile alutsista TNI pada acara gladi bersih HUT TNI ke-78 di Monas, Jakarta, Selasa (3/10/2023). Foto: Luthfi Humam/kumparan

Kemudian, Prabowo pun menjawab keluhan Ganjar atas pesawat bekas. Menurutnya, alat perang yang layak biasanya berusia kurang lebih 25-30 tahun, baik itu pesawat terbang, kapal perang, dan sebagainya.

"Jadi bukan soal bekas dan tidak bekas, tapi usia pakai. Kemudaan. Jadi pesawat, umpamanya pesawat Mirage 2005 yang ada di Qatar yang rencananya kita ingin akuisisi itu usia pakainya masih 15 tahun, dan teknologi ini mengarah kepada yang lebih canggih," kata dia.

Sementara jika ingin membeli baru, lanjut Prabowo, membutuhkan waktu yang lama hingga 3 tahun dan baru bisa dioperasionalkan 7 tahun. Selain itu, dia juga mengatakan sejak pemerintahan Presiden Soekarno dahulu kala, Indonesia sudah menggunakan alutsista bekas.

"Saya ingatkan, Bung Karno, waktu menghadapi Irian Barat seluruh alatnya bekas, Pak Ganjar. Bung Karno seluruh pesawat terbang, kapal selam, cruiser destroyer, semuanya bekas ya. Jadi kita juga masih pakai banyak, sampai sekarang pesawat bekas," tegas Prabowo.

"Jadi dalam alat perang, saya katakan, bukan baru dan bekas, tapi usianya. Kalau pesawat flying hours. Dan tentunya kita pasti mau yang terbaik untuk prajurit kita. Tapi kita harus loyal kepada yang lebih besar, COVID-19, ada krisis Ukraina, pangan naik, BBM naik," pungkasnya.